Minggu, 29 Juni 2014

FF Chanbaek - Nado Saranghae (Part 1)


Ini FF bikinan saya, don't share... boleh dibaca, disimpan, tapi jangan plagiat! Plagiat adalah cerminan bangsa yang memalukan!!!! Nggak suka karena RPF? SO... CHANBAEK aja nggak marah... wkwkwkwkwk....


Rate : (masih) T ---hiksss... hikssss... (mupeng Rate M)haha...
Cast : Chanbaek (Pairing sejati selamanya)

*Author POV*
Baekhyun menatap tumpukan strawberry di depannya dengan wajah mupeng. Dia menatap keranjang demi keranjang lalu mengusap air liur yang menetes di ujung bibirnya. Buah kesayangannya itu seolah menari-nari dengan manisnya di depan matanya. Sekali lagi dia menatap orang yang sedang tersenyum menatapnya.
“Otte? Apa kau bisa menukarnya dengan wajahmu? Aku juga akan memberimu kompensasi, asuransi dan juga biaya yang lain. Asalkan kau mau melakukannya!” namja keren di depannya tersenyum bangga, memamerkan gigi putih rapinya.
“Tapi apa tidak apa-apa? Bagaimana kalau orang lain tahu?” Baekhyun masih menatap strawberry itu tanpa berkedip. Dalam sekejap namja keren di depannya memegang erat bahunya dan tersenyum pelan.
“Sayang sekali kalau wajah ini tak dimanfaatkan...” namja tampan bernama Chanyeol itu menatapnya kagum.
“Tapi... orang lain akan segera mengetahuinya, Yeol-ah...!” Baekhyun menghela nafasnya pelan.
Baekhyun adalah namja cantik yang selalu menjadi perhatian orang-orang di sekitarnya. Namja, yeoja, semuanya seolah tersihir dengan wajah cantik dan senyumnya yang hangat dan imut seperti seorang peri. Yah, saat ini namja cantik itu sedang mendapatkan tawaran lain untuk menjadi seorang model. Bukan model biasa, melainkan model yeoja! Dia sudah sering mendapat tawaran seperti ini, tapi kali ini dia sulit untuk menolaknya, karena namja tampan di depannya yang bernama Chanyeol ini adalah sahabatnya, teman masa kecilnya. Baekhyun kembali menatap Chanyeol tak berkedip.
“Kau janji kalau aku hanya akan melakukannya selama sebulan, eoh? Kontraknya hanya sebulan, kan?” Baekhyun menatap Chanyeol dengan pandangan memohon.
“Iya, tentu saja aku akan menepati janjiku! Aku juga akan membelikanmu strawberry setiap hari...”
“Ceongmal?” Baekhyun menatap Chanyeol dengan wajah senang dan kaget hingga Chanyeol menatapnya kikuk. Chanyeol tak menyangka kalau Baekhyun akan mudah dibujuk dengan buah merah itu. Baekhyun benar-benar cantik seperti seorang yeoja hingga membuat darahnya berdesir dan jantungnya berdegup kencang. Chanyeol mengutuk dalam hati. Ayolah, Chanyeol... dia itu namja..! Mungkin memang dia bukan namja “biasa”, tapi ayolah, dia juga sama sepertimu! Chanyeol terus mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Selama ini dia selalu bertemu dengan para model cantik, namun tak sedetikpun matanya terpaku pada para model cantik itu. Baekhyun selalu mengganggu pikirannya, membuatnya ingin segera pulang dan bermain di kamar apartemen milik Baekhyun yang terletak di sebelah kamarnya.
Akhirnya, hari itu juga Baekhyun pun resmi membuat kontrak sebagai model yeoja pada perusahaan fashion milik Chanyeol.
*Chanyeol POV*
Yes! Aku mendapatkan dia akhirnya!
Aku sejak dulu sudah menginginkan dia menjadi salah satu model fashion perusahaanku. Aku sangat mengagumi wajah cantiknya itu, walaupun aku tahu kalau dia adalah seorang namja. Sayangnya tubuhnya kecil, jadi aku tak bisa membuatnya menjadi model yang sangat berpengaruh pada perusahaanku. Jadi untuk kali ini ada lowongan untuk model yeoja sehingga aku merasa kali ini pasti akan cocok.
Dan ternyata benar!
Siang ini dia benar-benar membuat seluruh perusahaan heboh. Seluruh camera handphone dan camera yang sedang dipegang pengunjung langsung mengarah ke arahnya dan mencuri fotonya. Tak hanya itu saja, para namja langsung mendekatinya.
Alasannya sederhana, karena dia kini berpakaian seperti seorang yeoja. Dia mengenakan sebuah dress putih berlengan pendek dengan pita di rambutnya yang kini sudah disulap oleh penata make-up menjadi sepanjang lengannya. Wig. Aku terbengong-bengong menatapnya dan kemudian tersadar saat Kai tiba-tiba menepuk bahuku.
“Itukah ‘yeoja’ spesial yang kau ceritakan itu?” dia bertanya pelan lalu tersenyum. Aku balas tersenyum, dan kembali menatap ke arahnya.
“Yeol-ah, ottokke? Apa baju ini bagus untukku?” Baekhyun melambai ke arahku. Saat dia ingin melangkah ke arahku, para namja yang sedang mengerubunginya langsung menghalangi jalannya. Aku merasa geram dengan pemandangan itu. Dengan segera aku menyusulnya, membuka gerombolan itu dan menarik tangannya.
“Kenapa kami tak boleh berkenalan dengannya, saejangnim?” para namja itu bertanya pelan, namun sebenarnya protes.
“Ini merchandise perusahaan kami, sangat berharga, dan kami mohon kalian tidak menyentuh seenaknya! Arasseo?” aku memeluknya dan mencoba membawanya dari sana.
“Geunde, saejangnim....” mereka masih mencoba menyentuh Baekhyunku sampai akhirnya karena aku sudah kesal, aku segera menggendongnya ala bridal style lalu melewati gerombolan itu. Sesampainya di lantai dua, aku segera menurunkannya dari gendonganku.
“Yeol-ah, gomawo...! Kau tahu, kan itulah salah satu alasan aku sangat benci bertemu dengan orang-orang...!” Baekhyun tersenyum menatapku. Tersenyum miris tepatnya.
“Tenanglah, Baekki... aku akan melindungimu! Pasti!” aku memeluk erat tubuh mungil cantik itu.
*Baekhyun POV*
            “Yak, bagus... tersenyumlah seperti itu...!” fotografer terus memberikan aba-aba padaku agar aku segera menuruti instruksinya dengan wajah yang dia inginkan.  Aku terus menurut hingga dia tersenyum puas. “Wah... wajahmu cantik sekali, Baekhyun-ah...! Sepertinya semua orang akan menganggapmu yeoja..” Dia terus memujiku, sementara Chanyeol mengacungkan kedua jempolnya padaku. Aku menatapnya sambil tersenyum sendu. Sebenarnya aku sedikit sedih, mengingat dia selalu tersenyum seperti itu padaku. Senyum seorang sahabat yang berterimakasih... ya, dia hanya menganggapku sebagai sahabatnya!
            “Apa kau lelah, Baekki-ah?” dia menghampiriku dan mengulurkan sebotol air mineral ke arahku. Aku tersenyum sumbang dan sedikit menghela nafas berat. Kami mengenal satu sama lain sejak kelas 6 SD. Saat itu banyak sekali orang yang menginginkanku, entah itu dengan maksud baik ataupun maksud buruk. Wajahku telah mengundang banyak perhatian orang dan tentu saja membuat niat jahat mereka segera muncul begitu tahu kalau aku seorang namja. Chanyeol selalu ada saat aku butuh, dia selalu melindungiku karena Ayahnya adalah orang yang berpengaruh, jadi tak ada seorangpun yang berani menyentuhnya. Ibunya sangat menyayangiku seperti dia menyayangi Chanyeol. Ibu Chanyeol selalu mengatakan padaku untuk menjaga anaknya, padahal akulah yang selalu dijaga oleh Chanyeol. Mungkin karena aku yatim piatu.
            “Yeol-ah, apa yang akan kau lakukan nanti sepulang kerja?” aku bertanya pelan. Chanyeol mengangkat bahu dan kemudian tersenyum.
            “Aku tidak ada planning... wae?”
            “Ayo kita makan di luar.. sudah lama sekali kita tidak pergi ke luar bersama...”
            “Hm... arasseo, bagaimana kalau kau tunggu aku pulang kerja nanti?”
            “Oke..” aku tersenyum senang. Yes! Akhirnya kami punya waktu untuk pergi bersama setelah beberapa bulan kami sibuk dengan urusan masing-masing. Aku mengangguk dan segera berlalu untuk sesi pemotretan selanjutnya. Kali ini busana yang harus aku kenakan bertema little girl, yang mengharuskan aku memasang wajah seimut-imutnya. Padahal aku ingin sekali ada orang yang mengatakan kalau aku ini tampan. Tapi sayangnya mereka malah mengatakan bahwa aku cantik.
            Semua orang bengong melihat pose aegyoku di depan kamera, termasuk fotograferku sendiri. Dengan semangat kemudian dia memotretku dari berbagai gaya dan tampaknya aku menyuguhkan pemandangan yang indah untuknya.
            Setelah semuanya selesai, aku segera berganti baju dan mencari sosok Chanyeol. Saat aku mengirim pesan padanya, dia hanya membalas “Aku masih ada urusan, tunggu aku..!”
            Aku mengangguk mengerti dan segera mencari tempat untuk menunggu Chanyeol. Aku melangkah pelan menyusuri pintu samping perusahaan yang menghubungkan jalan masuk dengan restauran dan lobi. Saat itulah langkah kakiku terhenti. Ada Chanyeol di dalam restauran. Duduk berdua bersama seoerang yeoja cantik. Mereka terlihat mesra dan saling tertawa. Perlahan dadaku terasa sakit. Sangat sakit. Berdenyut hebat seperti melihat ada orang yang sedang menghianatiku saat ini. Aku segera berbalik dan tak terasa tetesan air mata sudah jatuh dari kelopak mataku.
            Ternyata urusan yang Chanyeol bilang itu adalah urusan dengan yeoja itu. Urusan bermesraan bersamanya berdua dalam restauran. Dengan tangan yang masih gemetar, aku segera mengambil HPku dan mengetikkan sesuatu untuk Chanyeol. “Yeol-ah.. mianhae.. sepertinya aku tidak bisa makan di luar bersamamu hari ini. Aku ada urusan mendadak. Dagh.. mungkin lain kali..”
            Begitu pesan itu terkirim, aku segera berlari keluar perusahaan dan tanpa sengaja aku menubruk seseorang. Aku segera meminta maaf dan bangkit dari jatuhku. Aku kembali berlari lalu menyetop taksi dan kembali ke apartemenku. Di dalam kamarku, barulah aku menumpahkan apa yang kurasakan. Aku menangis kencang, menyalahkan diriku sendiri kenapa aku harus mencintai orang itu. Seharusnya aku tak boleh mencintainya, karena dia adalah namja, kau tahu... aku juga namja! Dia sangat serasi dengan yeoja yang saat ini sedang bersamanya di restauran. Aku menangis dan akhirnya tertidur.
*Author POV*
            Bel pintu apartemen Baekhyun berbunyi. Baekhyun segera bangkit dari tidurnya dan segera membuka pintu apartemennya. Dia langsung shock begitu melihat orang yang sedang berdiri di depannya adalah Chanyeol.
            “Baekki-ah, kenapa kau belum... eh? Kau kenapa? gwencana? Kenapa matamu bengkak?” Chanyeol menatap kaget wajah Baekhyun yang saat ini sedang kusut karena menangis semalaman tadi.
            Baekhyun segera tersadar dari kekagetannya dan menepuk pipinya perlahan. Dia memandang ke arah lain sampai akhirnya dia mendapatkan ide untuk menjawab pertanyaan Chanyeol.
            “Sebenarnya tadi malam aku menonton film yang sangat menyedihkan, jadi aku menangis.. karena itulah sekarang mataku seperti ini. Mianhae, yeol-ah..” Baekhyun merasa sedikit bersalah. Bagaimana kalau dia menggagalkan pemotretan kali ini karena kondisi mata bengkaknya itu?
            “Jadi urusan yang kau bilang penting itu adalah tentang film?” Chanyeol bertanya kesal. Baekhyun menunduk sambil menggigit bibir bawahnya. Chanyeol jadi ikut merasa bersalah kemudian mengulurkan tangannya. “Sudahlah, ayo ikut aku...! Aku tidak tahu apa dengan kondisimu seperti ini pemotretan masih bisa dilakukan... tapi siapa tahu saja ada yang bisa kau lakukan di sana!” Chanyeol menarik tangan Baekhyun. Baekhyun menggeleng horor.
            “Yak, apa kau sudah gila? Aku bahkan belum mandi!” dia protes lalu segera masuk ke dalam dan segera mandi.
            Sesampainya di perusahaan, Chanyeol segera menemui fotografer kemarin dan terlihat sedang mendiskusikan sesuatu. Fotografer itu segera mengangguk, menatap Baekhyun sekilas dan tersenyum senang. Sepertinya dia punya ide yang bagus. Dengan segera para penata rias segera melakukan tugasnya. Mereka memakaikan sebuah baju penyihir wanita berwarna hitam yang benar-benar terlihat exotic. Selain itu, mereka juga memasang sebuah wig hitam lurus yang panjangnya hingga sepinggul di kepala Baekhyun. Baekhyun benar-benar seperti seorang putri kegelapan yang sedang kesepian.
            “Pose seperti apa yang harus aku lakukan?” Baekyun menatap fotografernya bingung.
            “Cobalah untuk memasang wajah penuh dendam dan benci melihat sesuatu hingga membuatmu sakit..”
            “Sesuatu itu seperti apa?” Baekhyun bertanya bingung. Dia tak pernah benci dengan hal tanpa sebab seperti itu. Dia hanya benci dengan dingin. Karena itulah dia tak pernah menghidupkan pendingin ruangan saat tidur.
            “Baekhyun-ah, apa kau pernah sakit hati karena seseoang? Misalnya saja ketika pacarmu harus selingkuh diam-diam dan membuangmu...”
            Deg! Dalam sekejap jantung Baekhyun berhenti berdetak. Sakit hati karena pacarmu selingkuh dan membuangmu... Perlahan ingatan pahit kemarin saat melihat Chanyeol dan yeoja itu membuat hati Baekhyun kembali berdenyut sakit.
            Tes! Butiran air mata mulai menetes dari kelopak matanya. Semua orang disana termasuk Chanyeol menatap Baekhyun kaget. Tanpa pikir panjang lagi sang fotografer segera mengabadikan momen ini dan berdecak kagum dengan ekspresi yang dibuat oleh Baekhyun. Baekhyun terus menggigit bibir bawahnya dan meneteskan air mata. Namun pandangan sedih dan benci tergambar jelas di matanya. Dia hanya terdiam, menangis, sampai suara fotografernya mencoba membuyarkan adegan itu. Namun tidak dengan air mata Baekhyun yang tak mau berhenti menetes.
            Chanyeol segera melangkah ke arah Baekhyun. Tanpa pikir panjang lagi dia segera memeluk Baekhyun.
*Chanyeol POV*
            Sial! Kenapa dia menangis? Apa ada orang yang melukainya? Siapa? Akan kuhajar dia! Berani-beraninya dia melukai Baekki-ku!
            Aku terus memeluknya lembut. Air mata yang dia teteskan tadi bukanlah air mata acting yang dia buat untuk pemotretan ini. Tapi air mata itu benar-benar air mata karena dia sedang terluka. Bodohnya, aku tak tahu siapa yang telah melukainya! Kalau saja aku tahu, akan langsung kuhajar orang itu!
            “Baekki-ah, katakan padaku kenapa kau menangis seperti itu...” aku mencoba menginterogasinya saat kami sedang berada di ruang make up berdua. Dia hanya menatapku sambil terdiam, lalu menggeleng pelan.
            “Aku hanya menangis karena aku ingat film tadi malam, Yeol..” dia memalingkan wajahnya. Aku tahu dia sedang berbohong.
            “Jangan berbohong padaku! Katakan yang sebenarnya, Baek...” aku menatap tajam matanya. Dia menghela nafas dan kembali mengalihkan tatapannya. Aku mulai gusar melihatnya seperti itu. Dalam sekejap aku langsung memegang erat bahunya dan memaksanya menatapku. Dia kaget dan akhirnya menatapku walaupun terpaksa.
            “Aku tidak apa-apa! Ini bukan urusanmu!” dia membentak kesal. Aku kaget dengan reaksinya itu dan langsung menggeram kesal.
            “Kenapa sekarang kau punya rahasia dariku? Katakan yang sebenarnya!” aku masih memaksanya. Tapi yang kulihat darinya hanyalah tatapan kosong dan enggannya. Aku menggeram kesal dan menggebrak meja. Aku berdiri dan kemudian meninggalkannya sendiri setelah mengatakan, “Baik akan kuturui maumu! Kau sekarang sudah punya privasi yang penting, eoh?”
*Baekhyun POV*
            Aku tahu kalau dia sedang marah karena aku hanya diam saat dia bertanya seperti tadi. Tapi aku bisa apa? Tak mungkin kan kalau aku harus mengatakan kalau aku marah karena diam-diam dia bertemu dengan seorang yeoja. Bukankah dia mengatakan kalau aku tak boleh menyembunyikan rahasia apapun darinya? Tapi kenapa dia malah melakukan hal itu?
            Dalam sekejap aku menangis. Sakit rasanya hatiku karena perlakuannya yang egois seperti itu. Namun akhirnya aku memutuskan untuk berdiri, menghapus air mataku dan melangkah keluar ruangan make up untuk menyusul Chanyeol, menegaskan apa yang terjadi sebenarnya. Aku melihat dia sedang berdiri di sudut ruangan lobi. Dengan segera aku menyusulnya, namun ketika aku akan memanggilnya, yeoja yang berbicara dengannya di restauran kemarin muncul dan mengajak dia bicara. Aku menunggu dia selesai bicara dan menatapnya, mengisyaratkan kalau aku juga ingin bicara.
            “Ada apa?” dia menghampiriku.
            “Aku ingin bicara, sebentar saja..” aku menjawab pelan.
            “Maaf, tapi aku harus rapat sebentar lagi...”
            “Tak bisakah kau bicara denganku dulu? Aku bingung menjelaskan dari mana..” aku menghela nafas berat.
            “Katakan saja, Baek... aku sedang terburu-buru saat ini..”
            “Apakah kau ada rapat dengan yeoja itu?”
            Chanyeol mengangguk. Aku sedikit tersenyum getir mendengar penjelasannya. Apa yang kau lakukan, Baekhyun? Mungkin dia lebih memilih yeoja itu daripada kau!
            “Baiklah, aku tak akan mengganggu... jadi aku tak akan mengganggu waktumu saat ini...” aku mengangguk paham walaupun rasanya hatiku sakit. Aku berbalik dan akhirnya meninggalkan Chanyeol, namun sebelum aku melangkah lebih jauh, dia menahan lenganku.
            “Katakan apa yang ingin kau katakan sekarang, Baek...!”
            “Ani... aku tak akan mengatakannya sekarang! Sepertinya kau sedang sibuk!” aku berbalik lagi dan melangkah pergi.
            “Baik kalau itu maumu, Baek!” dia berteriak kencang, membuat dadaku sakit hingga aku berpikir kalau aku ingin pingsan saat itu juga.
            Aku terus melangkah meninggalkannya hingga sekali lagi tak sengaja aku menabrak seseorang hingga aku terjatuh. Orang yang kutabrak langsung ikut duduk di depanku mengulurkan tangannya.
            “Waktu itu kau juga menabrakku... dan kau juga sedang menangis...” laki-laki itu tersenyum dan menghapus air mata yang saat ini masih mengalir dari kedua mataku.
            “Mianhaeyo...” aku hanya mampu berucap seperti itu.
            “Gwencana... kau Baekhyun, kan?” dia kembali menatapku sambil tersenyum. Aku mendongak menatapnya dan bertanya pelan.
            “Ottoke arayo?”
            “Bagaimana aku tahu? Kau terkenal sekali di sini... juga aku melihat foto-fotomu saat kau berpenampilan sebagai yeoja... aku suka sekali... kagum dengan wajahmu itu... bagaimana bisa kau cantik dan tampan dalam waktu yang bersamaan?” dia memujiku. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku dan bertanya senang. Akhirnya ada yang mengatakan kalau aku tampan.
            “Ceongmalyo?”
            “Nde, gereumyo...”
            “Gamsahamnida, eng...”
            “Panggil aku Kris..! aku juga model di sini sama sepertimu.. Bangapta..” dia mengulurkan tangannya, mengajakku berkenalan.
            “Iya...” perlahan rasa canggungku mulai menghilang.
            “Berdirilah, aku akan mentraktirmu makan! Sebagai tanda perkenalanku..” dia menarik tanganku. Aku mengangguk senang.
            Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku berteman dengan orang lain selain Chanyeol. Kris orang yang sangat baik. Dia mau melihatku dari sudut pandang seorang namja, bukan yeoja jadi-jadian yang terperangkap dalam tubuh namja seperti yang dikatakan orang lain padaku.
*Author POV*
            Baekhyun dan Kris duduk berhadapan di restauran perusahaan. Baekhyun memesan jus strawberry kesukaannya dan menatap gelas berisi strawberry itu dengan senang. Kris yang melihatnya ikut tersenyum geli. Sepertinya dia tahu kalau ternyata Baekhyun sangat menyukai strawberry.
            “Lalu, kenapa kau selalu menangis dan menabrakku Baekhyun-ah?” Kris bertanya pelan. Baekhyun mendongak dan menatap arah lain.
            “Mianhae, Kris.. Hyung... aku tak bisa menceritakan hal itu padamu.. karena mungkin cerita itu agak pribadi..” Baekhyun kembali menatap jus strawberrynya.
            “Hm.. arasseo..! aku mengerti..” Kris mengangguk paham dan tersenyum.
            “Gomawo, Kris hyung...” Baekhyun ikut tersenyum. Dia tak butuh teman yang selalu memujinya saat ini, tapi yang dia butuhkan adalah teman yang mau menerima dia, mendengarkannya dan juga.... tidak egois. Sepertinya Baekhyun mendapatkan teman yang baik saat ini.
            “Kau tahu betapa aku sangat menyukaimu, Baekhyun?” Kris bertanya pelan, namun serius. Baekhyun mendongak dan tersenyum.
            “Banyak orang yang bicara seperti itu padaku...”
            “Tapi aku orang pertama yang mendapat respon baik darimu, kan?” Kris bertanya lembut hingga membuat Baekhyun yang awalnya kaget jadi ikut tersenyum. Mereka tertawa bersama.
            Begitulah akhirnya awal pertemanan mereka. Baekhyun datang ke perusahaan, melakukan tugasnya, lalu pergi bertemu Kris untuk makan siang. Setiap hari selalu seperti itu, karena kini Chanyeol sudah tak akan peduli padanya lagi. Dia sepertinya sedang sibuk dengan urusan rapat bersama yeoja waktu itu. Namun di sisi lain Chanyeol bukannya tidak peduli, tapi diam-diam dia mengawasi setiap langkah Baekhyun walau tak ada seorangpun yang mengetahuinya.
*Chanyeol POV*
            Aku menekan kencang dadaku. Aku melihat pemandangan yang sangat tak enak untuk kulihat. Sangat menyakitkan! Tapi aku tak tahu sebabnya kenapa! Aku hanya melihat Baekhyunku duduk bersama seorang namja tinggi dan tampan. Mereka tampaknya sangat mesra. Apalagi namja itu menyentuh-nyentuh pipi, dahi, hidung, bahkan bibir Baekhyunku. Aku muak! Marah! Ingin aku segera menghajar namja tinggi itu!
            “Sedang apa kau, Chanyeol-ah?” suara Kai lagi-lagi membuyarkan lamunanku. Dia sedang berdua bersama seorang namja mungil yang memiliki mata lebar dan terlihat innocent. Sepertinya mereka sangat dekat. “Oh, kau melihat Baekhyun? Kenapa kau hanya terdiam di sini? Ke sanalah, kalau kau memang marah! Katakan bahwa Baekhyun itu milikmu!” Kai memberiku saran yang gila.
            “Kau gila? Mana mungkin aku mengatakannya? Walaupun aku sangat mencintainya, tapi dia namja...! Aku juga! Walaupun aku tak masalah dengan hal itu asalkan itu Baekhyun, tapi bagaimana dengannya? Dia pasti akan menolakku!” aku menggeleng horor.
            “Kenapa dia harus menolakmu? Bukankah kalian saling menyayangi sejak kecil?” Kai bertanya lagi.
            “Tapi bagaimana dengan orang-orang...?”
            “Kau takut mereka menganggapmu aneh? Bukankah kau ingin sekali melindungi dia dari mereka? Aku saja tak masalah dengan pandangan orang...”
            “Eh?” aku menatap Kai bingung.
            “Iya, aku seperti ini...” cup! Kai mencium pipi namja di sebelahnya dengan sayang. “Ini Kyungsoo, namjacinguku...!” dia memperkenalkan namja di sebelahnya padaku. Aku terbelalak kaget. Kai begitu blak-blakkan menggambarkan cintanya. Aku kembali menghela nafas dan menoleh ke arah Baekhyun, tapi sayangnya dia sudah menghilang bersama namja itu!
*Author POV*
            Hari ini seperti biasa, Baekhyun datang ke perusahaan. Tapi ada yang berbeda. Baekhyun harus melakukan pemotretan dengan seorang namja. Dan namja itu adalah....
            “Kris.. hyung...?” Baekhyun kaget dan kemudian tersenyum senang.
            “Hai, akhirnya aku bisa juga dapat kesempatan untuk berfoto bersama Baekhyun yang terkenal itu...!” Kris mendekat ke arah Baekhyun dan mengelus puncak kepalanya. Saat itulah Chanyeol yang baru masuk melihat adegan itu. Kesabarannya sudah habis! Dia segera melangkah cepat ke arah Baekhyun dan langsung menepis tangan Kris dari kepala Baekhyun.
            “Jangan pernah menyentuh Baekhyunku!” dia menatap Kris marah.
            “Baekhyunmu?” Baekhyun dan Kris kompak menjawab. Baekhyun menatap wajah Chanyeol dan kemudian berkata pelan.
            “Ah, iya... bukannya kau mengatakan bahwa aku adalah merchandise perusahaanmu, kan? Aku lupa..!” Baekhyun menjawab pelan dan kemudian melangkah menghindari Chanyeol. Namun sebelum Baekhyun sempat pergi, Chanyeol langsung menggenggam erat tangannya dan menariknya pergi.
           “Yeol-ah, lepaskan aku!” Baekhyun meronta, memohon agar Chanyeol melepaskan tangannya.
            “Kau gila? Kenapa kau biarkan dia menyentuhmu?” Chanyeol menatap Baekhyun tajam.
            “Dia temanku...”
            “Teman? Apa seorang teman harus saling menyentuh satu sama lain?!!”
            “Hei, kenapa denganmu? Bukankah dia adalah partnerku dan aku harus melakukan photoshoot dengannya saat ini?” Baekhyun menatap Chanyeol, menantang.
            “Apakah kalian hanya berteman?!!”
            “Wae?! Apa pedulimu, Park Chanyeol?!” akhirnya kesabaran Baekhyun sudah habis. “Kau boleh berteman dengan yeoja di restauran waktu itu dan menghabiskan seluruh waktumu untuk rapat dengannya, tapi kenapa aku tidak boleh?”
            “Kau marah karena aku bertemu dengannya? Dengarlah, aku tidak melakukan apapun dengannya!”
            “Apa peduliku? Bukan urusanku!!” Baekhyun berbalik dan segera kembali pada Kris. Photoshoot hari itu dibatalkan karena Kris yang memintanya. Tentu saja alasannya karena Baekhyun sedang tidak dalam mood yang baik, jadi percuma kalau diteruskan.
            Kris membawa Baekhyun pada suatu tempat asing yang tidak dikenali Baekhyun. Dia hanya membawa Baekhyun tanpa menjelaskan itu ada dimana. Barulah saat kesadaran Baekhyun pulih, dia segera bertanya pada Kris sedang berada di mana mereka saat ini.
            “Baekhyun-ah... ada yang ingin kukatakan padamu saat ini...” Kris menatapnya serius.
            “Mwo?”
            “Sebenarnya aku menyukaimu sejak dulu, sejak kau SMP! Aku adalah namja yang mengirimimu surat setiap hari. Aku adalah orang yang selalu mengawasimu, mencintaimu dan akan memilikimu..!” pernyataan Kris membuat Baekhyun kaku di tempat. Sebenarnya dulu ketika dia masih SMP, ada seorang stalker yang selalu mengganggunya, bahkan berniat untuk menculiknya hingga dia harus menginap di rumah Chanyeol dan Appa Chanyeol segera mengatasi masalah itu.
            “Ja... Jadi.. kau adalah... namja itu...?” Baekhyun bertanya kaget. Kris tersenyum, namun senyumnya kali ini bukan senyum lembut seperti biasanya, melainkan senyuman jahat.
            “Tak ada orang yang bisa memisahkan kita, Baekhyun-ah..! Setelah aku bekerja keras untuk masuk di perusahaan tempat Park Chanyeol berada, akhirnya kau muncul juga di depanku. Awalnya aku hanya ingin membuat Park Chanyeol menderita karena Appanya memisahkan kau dan aku...! Tapi sekarang aku malah ingin memilikimu lagi..” Kris mendekat ke arah Baekhyun, namun Baekhyun mundur dengan wajah takut. Air mata sudah menetes pelan di pipinya.
            “Menjauhlah, Kris! Kenapa kau lakukan ini padaku? Ottoke...?”
            “Karena kau mencintai Park Chanyeol, kan? Jadi tak ada jalan lain bagiku untuk memilikimu selain memaksamu seperti ini...” Kris semakin mendekat. Saat Baekhyun mencoba melarikan diri, Kris memukul Baekhyun hingga dia tak sadarkan diri.
*Chanyeol POV*
            Sial!!!
            Aku mengutuk sembari mengumpat. Pikiranku kacau dan aku tak bisa menahan emosi yang saat ini sedang ada dalam pikiranku. Kenapa aku baru menyadari kalau aku mencintainya? Aku juga telah berjanji untuk melindunginya, tapi kenapa aku malah menyakitinya?
            Drrrrr.... HPku bergetar. Sebuah telepon dari private number. Kenapa saat suasana hatiku sedang buruk malah ada orang yang iseng?
            “Yeoboseyo..?” aku mengangkat telpon itu akhirnya.
            “Park Chanyeol-shi? Apa yang sedang kau lakukan saat ini? Haha... sepertinya kau sedang marah karena Baekhyun kesayanganmu lebih memilih bersamaku..” suara tawa di sana menggema. Aku tahu suara siapa ini. Kris!
            “Odieso? Dimana kalian?”
            “Hoho... kalau kau memang ingin bertanya padaku, bertanyalah dengan sopan, Chanyeol-shi...! Hm... saat ini Baekhyun kesayanganmu itu sedang tidur dengan tenang di sini. Tidur dengan cantiknya..!”
            “APA?!!! APA YANG TELAH KAU LAKUKAN PADANYA?!!!!”
            “Hahahaha.... aku sangat menginginkannya! Dan akan kulenyapkan orang yang menghalangi jalanku! Dia akan kumiliki untukku sendiri!” tut.... telepon itu terputus. Aku menggebrak meja. Saat ini tak ada gunanya lapor polisi karena dia pasti akan melakukan sesuatu yang buruk pada Baekhyun. Aku mengambil kunci mobilku dan menyusuri setiap jalan, hingga Kris menelponku lagi.
            “Katakan dimana kalian..! Jebal...!” aku menangis memohon.
            “Hm... kau menangis, Chanyeol-shi? Hahaha... baiklah, aku akan memberitahumu dimana kami berada...” Kris menyebutkan sebuah alamat, dan aku segera menuju tempat itu dengan syarat aku tak boleh membawa polisi. Aku menyanggupinya lalu melangkah pelan memasuki sebuah gudang tua, tempat Baekhyun saat ini. Baekhyun-ah, tunggu aku! Baik-baiklah di situ, Baekhyun-ah! Bertahanlah...!
*TBC*
(To Be Continued, lho ya..! bukan Tubercholosis, lho!)
Hahahaha... rasain, tuh! Kasihan si Park Chanyeol..! Salah sendiri Baekhyun dicuekin..! Akhirnya Author marah dan bikin reader penasaran... hahahaha... mau tahu cerita selanjutnya? Kasih tahu nggak ya...??? (review dulu, dong..! hohohoho...)
Chanyeol : Woi! Mau gue sate, loe?
Author : emang disana ada sate, ya Yeol? Kanibal, loe! Gue laporin suami gue, loe!
Chanyeol : Siape emang suami loe?
Author : Bang Zhang Yi Xing! Dan perlu loe tau, Baekhyun itu anak gue dari Bang Lay! Intinya, gue calon mertua loe! Loe nggak gue restui sama Baekhyun anak gue yang paling cute kalo loe masih jahatin anak gue!
Baekhyun & Lay : What???!!! Siapa loe? Ngaku2 aja!
Chanyeol : Rasain, loe author! Baek... sini, Baek...! Gue ajak rate M-an, yuk!
Baekhyun : Mesum, loe Yeol! Ogah, ah! Si Author aja bikin rate M masih dibelain bertapa bertahun-tahun dulu!
Chanyeol : Uapaaahhhh...??? padahal dia kan udah bikin rate M-nya si JRen itu! Pake pasang wajah polos nggak berdosa, lagi! kenapa gue sama Baekki sayang gak dibikinin juga?!!! Thor, sini loe Thor!!
Author : Bang Gaaraaaaa.....!!! Chanyeol marahin aku..!
Gaara : Sini sayang...! Loe berani sama bini gue, Chan?
Chanyeol : Loe mau sama dia??
Lay : Trus aku sama siapa?
Author : Suho! Kan kalo loe sama gue fans loe pada marah! Kalo loe sama Suho mereka seneng!
Lay : iya juga, ya..! daripada gue sama loe..
Author : Loe milik gue, Yixinnnggggg....!!!!!
Gaara : STOP!!! INI FF APAAN, SIH?????! SANA, BIKIN SAMBUNGANNYA SANA! HUSH! HUSH! DARIPADA LOE BIKIN OCEHAN GAK JELAS KAYAK GINI!!
(Dan akhirnya Author diusir oleh semuanya... Author yang malang...)

FF Chanbaek - Because You Are Mine



By : Gaara Nyunyul
Cast : All Pairing EXO (Chanbaek FULL)
Rate : T--- (mupeng Rate M punya tetangga gara2 masih belom bisa gambarin adegan *ehem*  ‘-_-)
Perhatian...!!! Ini Blog gue, ini akun gue, ini karya gue.. Loe nggak suka? Protes? Hush, hush... nggak penting banget! Kritik atau saran yang membangun boleh... Kalau hinaan nggak berdasar, bash, bully atau omongan nggak bermutu mending nggak usah diposting di sini.. ini blog FUJOSHI!!!

*Author POV*
            Matahari mulai menyinari sudut dorm EXO yang terlihat masih sepi. Dari salah satu kamar dalam dorm itu, seorang namja menguap panjang dan menoleh ke arah sudut lain ruangan. Tampak teman sekamarnya sedang terlelap dengan manisnya. Bibirnya yang merah dan wajah feminin mirip yeoja itu mengusik perhatian namja di sebelahnya yang sedang menguap itu. Baekhyun. Begitulah namja cantik itu dipanggil. Dia begitu cantik hingga membuat semua yeoja iri dengan kecantikan dan keimutannya. Namun, di sisi lain ada orang yang begitu khawatir dengan kecantikan Baekhyun. Ya, namja itulah yang sedang menatapnya saat ini dengan pandangan sedih namun juga bahagia.
            “Kenapa kau melihatku seperti itu?,” Baekhyun, namja yang sedang tidur itu bertanya tiba-tiba dengan mata terpejam. Namja yang sedang menatapnya kaget dan akhirnya terjatuh.
            “Hehehe... maaf...,” Chanyeol terkekeh dan bangkit dari jatuhnya.
           “Kau selalu saja menatapku seperti itu saat aku sedang tidur. Apa kau tak punya kerjaan lain, eoh?”
           “Mianhae... Habis, kau terlalu cantik untuk ukuran seorang namja...bahkan yeoja sekalipun...” Chanyeol menggaruk tengkuknya malu.
            “Kau menyukaiku?”
            “Eh?” Chanyeol menatap Baekhyun sambil menggaruk kepalanya. Bingung dan gugup sedang menghantuinya saat ini, saat namja cantik dan imut itu bertanya dengan mimik muka menantang. Namun, detik berikutnya namja cantik itu meninju lengannya pelan sambil terkekeh ringan.
            “Dasar, kau ini! Aku Cuma bercanda... tak usah dimasukkan hati! aku hanya sedang menggodamu...” Baekhyun tersenyum pelan dan kemudian membalikkan badannya.
            “Tapi... tapi... aku benar-benar menyukaimu, baek..” Chanyeol menatapnya sambil tersenyum. Baekhyun menatapnya kesal kemudian menghela nafas.
            “Iya, iya... aku tahu... Sudahlah, aku sudah tahu... aku ingin tidur, jadi untuk sementara jangan ganggu aku! Kalau kau kesepian pergilah ke kamar Kai atau Sehun..”
*Chanyeol POV*
            Aku benar-benar menyukai Baekhyunku. Sangat menyukainya, eh tidak... aku sangat mencintainya tepatnya. Sangat mencintainya. Tapi sayangnya apa yang kukatakan tentang itu bagi Baekhyun seperti bercandaanku saja. Bagaimana bisa aku mengatakan semua padanya kalau aku benar-benar mencintainya sementara dia sendiri saja tak pernah mengatakan kalau dia mencintaiku. Aku terus terang iri saat melihat kedekatan Sehun dan Luhan yang selalu pamer kemesraan setiap mereka bertemu. Sementara Baekhyunku selalu menghindar saat aku ingin memeluk atau hanya sekedar mendekat padanya. Kami selalu bertengkar tentang apapun yang berbeda, dan itupun hanya masalah yang kecil seperti rasa es cream apa yang ingin kami beli. Aku suka rasa pisang, tapi baekhyun menyukai strawberry hingga akhirnya aku yang harus mengalah dan kami membeli rasa yang sama, strawberry.
            Baekhyun yang selalu kupanggil dengan Byun Baek itu telah mengisi hatiku sejak awal training. Awalnya aku mengenalnya, lalu kemudian mengaguminya, menyayanginya lalu akhirnya pun aku mencintainya. Para fans yang selalu membuat fanfiction tentang kami, entah itu aku yang lemah lembut pada Baekhyun atau kisah cinta kami yang akhirnya berakhir tragis. Padahal hari-hari kami di sini selalu diisi dengan pertengkaran-pertengkaran yang tak akan lebih lama daripada tiga hari. Terkadang dia menghindariku jika kami sedang marah tapi kemudian dalam sekejap dia akan menempel padaku.
            “Yeol-ah, apa yang kau lakukan?” suara Baekhyun terdengar di telingaku saat aku sedang duduk di pojok ruangan tempat nonton TV.
            “Byun Baek..? kenapa kau sudah bangun? Kukira kau tak akan bangun secepat ini, eoh?” aku kaget melihatnya mengucek matanya dan melangkah pelan ke arahku. Aku mendongak menatapnya tanpa berkedip. Rambut berantakan, baju kusut, mata ngantuk dan bibir merah itu membuat darahku berdesir. Aku benar-benar gila! Apa ini karena aku sering membaca fanfic yang saat ini telah beredar luas di internet tentang aku dan Baekhyun, ya?
            “Aku kedinginan...” Baekhyun kembali menguap dan merentangkan tangannya. Aku tertawa sumbang mendengar ucapannya dan kemudian berpaling darinya. “Padahal aku sudah mengatur pemanas ruangan lebih tinggi dari biasanya...” dia duduk di sofa tepat di depanku dan menoleh ke arahku.
            “Hahahaha.... kau tahu, kan kalau sekarang sudah hampir masuk musim dingin. Pakailah pakaian tebalmu, nanti kau sakit! Nanti member EXO-M akan datang dan akan tinggal beberapa hari.” aku mengalihkan pembicaraan. Aku baru saja mendapat telepon dari Kris hyung dan dia mengabarkan hal itu. aku rasa Suho hyung juga sudah mendengarnya.
            “Oh, begitu...” dia mengangguk-angguk mengerti. Namun baru beberapa saat kami menikmati momen berdua ini, maknae cadel kami mulai menginterupsi. Dia duduk seenaknya di sebelah Baekhyun dan menghidupkan TV. Wajahnya terlihat ceria dan senang.
            “Hei, hei... kenapa wajahmu terlihat senang sekali, eoh? Apa karena nanti member EXO-M akan datang? Kau ingin sekali bertemu dengan hyung kesayanganmu itu, ya Sehun-ah?” Baekhyun mencolek pipi Sehun yang saat ini sedang tersipu karena senang.
            “Yak.. hyung, berhentilah menggangguku! Saat ini aku sedang tidak ada mood untuk bermain denganmu!” Sehun protes mendengar gurauan Baekhyun.
            “Bukannya tadi kau baru saja menelponnya, ya Sehun-ah..?” sang Leader, Suho muncul sambil tersenyum ke arah Sehun.
            “Jinja? Kau benar-benar menyukainya, ya Sehun-ah?” aku pura-pura terkejut, walaupun aku tahu mereka tak akan pernah dipisahkan walau banyak fans yang memasangkan Sehun dengan Kai atau lainnya.
            “Ani, aku tidak menyukainya...” Sehun menjawab sambil menatapku datar.
            “Ceongmal? Wah, Luhan hyung harus mengetahui ini semua kalau namja yang selalu menggodanya ini ternyata tidak menyukainya...” Baekhyun mendekat, menatap tajam Sehun, membuatku membelalakkan mata. Siapa yang tidak ingat waktu showcase itu? baekhyun dengan gampangnya mengatakan kalau dia pernah mandi dengan Sehun! Padahal aku juga sering mandi dengannya walau harus menahan diri agar tidak berbuat yang tidak-tidak.
            “Naneun... Luhan hyung chua-anigotdeun...! geundae... sarang...! sarang...! naneun Luhan hyung saranghae... arasseo?” Sehun berucap ketus dengan aksen cadelnya.
            Ah, ya... pernahkah Baekhyun mengatakan saranghae padaku? Setauku dia lebih mencintai Ipadnya dibanding aku. Ah, mengingatnya saja rasanya aku ingin sekali menjerit dan memukul tembok hingga hancur!!!
*Author POV*
            Akhirnya malam harinya para member EXO-M sampai di dorm EXO. Mereka baru saja menyelesaikan konser mereka di China. Luhan langsung diserbu oleh Sehun. Luhan yang masih berwajah seperti anak kecil itu langsung shock melihat Sehun langsung memeluknya dan membenamkan wajahnya di leher Luhan.
            “Luhan hyung, bogoshippo... Tahukah hyung bahwa aku sangat merindukanmu?” Sehun mulai bermanja-manja dengan Luhan. Chanyeol menatap mereka sambil tersenyum miris. Tersenyum miris karena iri dengan kedekatan mereka. Ia ingin seperti itu juga dengan Baekhyun.
            “Yo, Chanyeol...!” Kris menyapa Chanyeol dan mereka berhigh-five seperti gaya para rapper. Tao yang membawa oleh-oleh dari China segera menyerobot mereka dan langsung memanggil Baekhyun.
            “Beef, aku bawa oleh-oleh...” ucapnya sambil meletakkan bungkusan berisi makanan itu di atas meja.
            “Ige mwoya?” Baekhyun menatapnya dengan penuh tanda tanya.
            “Ini makanan khas dari suatu daerah di China. Aku tahu kau belum merasakannya, jadi ayo makanlah...” Tao tersenyum. Baekhyun ikut tersenyum dan melompat ke dalam pelukan Tao.
            “Gomawo, Tao.... Saranghae...”
            Deg! Detak jantung Chanyeol seolah terhenti begitu saja mendengar ucapan Baekhyun pada Tao. Chanyeol ingin menjerit saat itu juga kalau saja Kris tidak menepuk bahunya, menyadarkannya.
            “Hei, apa kau tahu lagi ini? Ini lagu baru yang sekarang sedang trend di China..” Kris menunjukkan MP5nya pada Chanyeol. Chanyeol menoleh ke arah Kris, tersenyum lalu meraih headphone Kris dan mendengarkan lagu yang Kris rekomendasikan itu.
            “Lagu apa ini? Enak sekali...” Chanyeol terkekeh dan tersenyum sambil asik menikmati alunan musik di telinganya. “Untuk saat ini aku akan menyembunyikan perasaanku dengan lagu saja.” Chanyeol membatin.
*Baekhyun POV*
            Pabo!! Ugh, kenapa anak itu sepertinya cuek sekali padaku? Apa aku berbuat kesalahan padanya? Ah, bukannya biasanya dia selalu mengatakannya padaku kalau sedang marah? Dia bukan orang yang akan diam saat dia marah. Dia akan mengatakannya saat itu juga, kan? Kulihat dia sedang bersama Kris hyung. Biasanya saat dia sedang kesal padaku dia akan segera mendekati Kris hyung. Aku tak tahu kenapa Chanyeol bertingkah seperti itu padaku saat ada member EXO-M seperti ini.
            “Beef...” Tao menepuk pelan pundakku. Aku menoleh ke arahnya dan menyuapkan makanan oleh-oleh Tao tadi ke mulutku. “Wae? Kau kelihatannya kurang senang. Apa kau tidak senang aku disini, eoh?” Tao menatapku cemberut.
            “Ah, ani... aku suka kalau kau di sini, Tao... hanya saja aku sedang banyak pikiran saat ini...”
            “Masalah apa? Ceritakan saja padaku, siapa tahu aku bisa bantu..”
            “Aku juga bingung masalahnya apa, Tao...” aku menatapnya pasrah dan kemudian terdiam tanpa ada hal yang ingin kuceritakan sampai tangan besar Tao yang biasanya digunakan untuk wushu menyentuh pelan dahiku.
            “Pantas saja aku merasa ada yang aneh denganmu. Badanmu panas begini, apa kau tidak sadar, eoh?”
            “Jinja?” aku menyentuh dahiku sendiri dengan tatapan tak percaya. Memang lumayan panas. “Pantas saja saat aku menghidupkan pemanas ruangan aku tidak merasakan apapun dan tetap saja kedinginan..”
            “Kau juga memakai baju yang tipis, beef..” Tao menyentuh bajuku. Aku memandang bajuku dan mengangguk paham.
            “Hmm... aku lupa kalau sekarang sudah masuk musim dingin..”
            “Pakai ini, beef...” Tao melepaskan jaketnya dan menyelimutkannya pada bahuku.
            “Tidak usah, nanti kau juga kedinginan...”
            “Jangan menolak! Aku tahu kalau kau sedang ada masalah. Dan yang selalu membuatmu seperti ini biasanya masalah dengan Chanyeol...”
            Aku menatapnya sendu. Sahabatku yang satu ini memang benar-benar mengerti aku. Tao menepuk lembut bahuku dan menggandeng tanganku masuk sampai aku mendengar suara Chanyeol di depan kami.
            “Apa kalian bersenang-senang?” dia bertanya pedas. Aku tidak mengerti kenapa tiba-tiba dia semarah itu padaku.
            “Tentu saja, kenapa aku harus sedih kalau ada Tao di sini?” tantangku berani. Chanyeol menatapku kesal. Aku balas menatapnya marah.
            “Sebenarnya apa masalahmu denganku? Kenapa kau mengacuhkanku?” Chanyeol menatapku gusar. Aku balas menatapnya.
            “Bukannya kau yang sedang marah padaku?” aku kembali membalikkan pertanyaan yang sama.
“Sudahlah, Byun Baek! Kau tahu kalau sekarang kau yang harus membersihkan kamar kita karena kau kalah main game denganku tadi malam..” Chanyeol sedikit membentak.
“Tidak bisakah aku melakukannya nanti? saat ini aku sedang ada urusan..” aku menolak. Tao menatapku tak enak. Kris hyung yang melihat pertengkaran kami segera mengisyaratkan Tao untuk meninggalkan aku dan Chanyeol. Kris hyung menarik lengan Tao dan pergi dari hadapan kami.
“Urusan? Oh..rupanya kau sedang sibuk, byun baek hingga kau punya waktu untuk berdua bersama dengan Tao... Makan makanan yang dia bawa berdua...” Chanyeol menatapku marah. Aku lelah untuk berdebat dengannya saat ini. Tenggorokanku terasa sakit saat menelan.
“Aku mengerti. Aku akan melakukan apa maumu!” aku beranjak dari hadapannya dan kembali ke kamarku. Pandanganku berkunang-kunang. Apa aku sakit saat ini?
“Apa yang kau lakukan? Sana cepat sapu dan pel ruangan ini..” Chanyeol muncul di belakangku dan menyuruhku. Aku melangkah pelan mengambil sapu di sudut ruangan. Kepalaku berdenyut dan badanku mulai meriang.
“Kenapa gerakanmu lambat sekali, byun baek? Apa kau mau tiga hari lagi baru selesai?” dia mulai berteriak lagi. Tolong, jangan berteriak padaku, Yeol..! Kau tahu aku sangat benci itu!
“Jangan berteriak, aku tidak tuli!!” aku ikut emosi mendengar teriakannya.
“Kalau kau tidak ingin aku berteriak, segera lakukan apa tugasmu!” Chanyeol segera meninggalkanku sendiri di kamar. Aku dengar dia mengunciku dari luar. “Lakukan tugasmu atau kau akan terkunci di kamar”, dia melangkah pergi. Aku kembali tertunduk lesu.
*Author POV*
Baekhyun menatap seisi kamar dengan pandangan lesu. Kepalanya mulai berdenyut, kali ini lebih keras dari yang tadi. Denyutnya semakin keras saat dia mulai menggerakkan badannya membersihkan ruangan miliknya dan Chanyeol ini. Dia terduduk lesu di sebelah tempat tidurnya dan mencoba menguasai diri. Sementara itu, Chanyeol melipat wajahnya dan bergabung dengan Kris dan yang lainnya. Semua orang memandangnya namun tak berani bertanya. Happy virus itu seolah berubah menjadi orang lain saat marah. Di dalam hatinya, sebenarnya dia mengutuk apa yang dia lakukan dan dia katakan pada Baekhyun. Dia terlalu emosi dan mengatakan hal itu padanya. Padahal sebenanya dia hanya ingin Baekhyun tidak bermanja-manja dengan Tao. Apalagi saat dia mengatakan Saranghae dengan mudahnya, membuat dia semakin muak. Sangat muak sampai dia ingin membawa Baekhyun, menguncinya dalam kamar dan mengklaim bahwa Baekhyun hanya miliknya seorang.
“Hyung, apa yang kau lakukan pada Baekhyun hyung?” Sehun yang memang evil itu bertanya to the point sementara Luhan langsung menutup mulut maknae itu lembut dan meletakkan jari telunjuk di bibirnya. Sehun menurut untuk menutup mulutnya, tersenyum lalu kembali bersandar pada Luhan. Suho yang sedang duduk bersama Lay menghela nafas melihat tingkah Sehun yang kekanakan itu.
“Hyung, apa kau tidak keterlaluan? Biasanya kau tidak marah sampai sekeras ini pada Baekhyun hyung...” D.O ikut penasaran. Kai yang mendengar namjachingunya ikut menyela, langsung mengikuti jejak Luhan, menutup mulut D.O, tapi D.O langsung menggigit tangan Kai hingga Kai berteriak kesakitan.
“Biarkan saja dia!” Chanyeol melangkah meninggalkan mereka dan keluar. Tao menatap Kris dengan pandangan memohon.
“Dia membawa kunci kamarnya” Kris menjawab pandangan Tao dengan wajah penuh rasa bersalah.
“Apa tidak bisa kita cari kunci duplikatnya, hyung?” D.O kembali bersuara sambil menatap Suho.
“Manager hyung yang membawanya. Aku juga tak bisa menghubunginya sejak tadi.” Suho kali ini yang merasa bersalah.
“Bagaimana kalau aku yang mendobrak pintunya?” Tao mengusulkan dengan wajah cemas.
“Tidak, kita akan dimarahi kalau sampai manager hyung tahu...” Chen menjawab ide gila Tao.
“Sayangnya jendela kamar mereka memiliki terali besi...” Xiumin menghela nafasnya dan menggaruk kepalanya dengan gusar.
“Aku akan mencoba membujuknya...” Kris melangkah menyusul Chanyeol yang kemudian diikuti Suho.
Sementara itu, Baekhyun di kamar sedang menangis. Dia menatap seisi ruangan sambil mengusap air matanya. Dia mencoba bangkit dari duduknya sambil meraih sapu yang berada tak jauh darinya. Namun sayangnya, kepalanya yang sejak tadi berdenyut mulai tak bisa dikompromi. Saat itu juga dia terjatuh dan tak sadarkan diri.
Satu jam berlalu, saat ini Tao dan yang lain mondar-mandir tak jelas di ruang tengah. Tao menghela nafasnya berkali-kali sambil mengacak rambutnya.
“Kenapa mereka lama sekali? Apa mereka tidak tahu kalau Beef mungkin sedang sakit di dalam sana?” Tao berteriak kesal.
“Sakit?” Chen bertanya cepat. Tao menoleh dan langsung melompat kaget, menyadari sesuatu tentang kondisi Baekhyun terakhir kali bersamanya tadi.
“Bolehkah aku mendobrak pintunya kalau Baekhyun tak menjawab panggilanku hingga lima kali?” Tao menatap semua member EXO kecuali Chanyeol, Kris dan Suho yang mungkin mereka kini sedang bernegosiasi.
“Baiklah, lakukan saja, Tao..” D.O yang super bijak (#Plak!! Untuk author) segera mengangguk paham. Sehun ikut mendekat sementara Luhan menggenggam erat lengannya takut dan cemas.
“Beef...”
“....”
“Beef, jawab aku...! Gwencana?”
“....”
“Beef, kami hanya ingin tahu kau tidak apa-apa di dalam sana! Kris gege dan Suho hyung sedang mencari Chanyeol...”
“....”
“Hyung, buka pintunya...! kami mohon..!” kali ini D.O ikut ambil suara.
“....”
“Sepertinya ini sudah kelima kalinya kita memanggil... Baekhyun-ah, buka pintunya....” Chen ikut berteriak sambil menggedor pintu. Akhirnya Tao, Sehun dan Chen mulai bersiap untuk mendobrak. Mereka mundur perlahan, sampai akhirnya suara Suho muncul.
“Chakkaman...” mendengar interupsi dari leader mereka, semua orang menatapnya. Chanyeol menatap mereka semua dengan pandangan datar dan ogah-ogahan. Melihat reaksi Chanyeol, Tao menangis pelan. Kris yang melihat namjachingu kesayangannya menangis segera mendekat dan memeluknya.
“Ada apa?” dia bertanya pelan.
“Gege... beef.. apa dia tidak apa-apa?”
“Memangnya dia kenapa?” kali ini Chanyeol yang bereaksi.
“Baekki hyung sedang tidak baik-baik saja saat ini.. Kami sudah memanggilnya dari tadi, tapi tak ada sahutan dari dalam... Kami khawatir kalau dia kenapa-napa di dalam sana..” Sehun menjawab pelan. Chanyeol membelalakkan matanya dan langsung mengeluarkan kunci kamarnya dan membuka pintu kamarnya dengan tidak sabaran sampai dia menemukan tubuh Baekhyun yang tergeletak tak sadarkan diri di sudut ruangan dengan air mata yang menggenang di sudut matanya. Melihat pemandangan menyakitkan itu, Chanyeol langsung kalap. Dia berlari mendekat ke arah Baekhyun, mengguncang tubuh Baekhyun dengan kasar.
“Yak, Byun Baek!! Ireona!! Sadarlah!! Maafkan aku!! Bangunlah, Byun baek! Yak! Pabo!!” Chanyeol terus mengguncang tubuh Baekhyun sambil menangis histeris. Suho dan yang lainnya segera menenangkan Chanyeol dan langsung membawa Baekhyun ke rumah sakit. Sepanjang jalan Chanyeol hanya mengutuk dirinya sendiri dan menangis.
“Chanyeol-ah! tenanglah! Apa kau tidak bisa tenang saat seperti ini? Kenapa emosimu berbeda dengan yang tadi? sekarang kau tahu bagaimana rasanya kalau Baekhyun jadi seperti ini, hah? Bukannya kau bilang kau tak peduli?” Suho marah. Chanyeol terdiam mendengar ucapan Suho. Dia meremas rambutnya gemas, sampai akhirnya dokter keluar dari ruangan Baekhyun tadi.
“Dokter, ottokeyo?” Chanyeol langsung menyerbu dokter itu.
“Dia hanya anemia. Mungkin dia juga kurang tidur dan juga kelelahan. Antibodinya juga sedang lemah saat ini, jadi gampang terserang demam. Dia tidak apa-apa, saat bangun nanti kalian boleh membawanya pulang...” dokter itu tersenyum lalu berlalu. Chanyeol dan yang lainnya menghela nafas lega dan segera memasuki ruangan rumah sakit untuk melihat keadaan Baekhyun. Kini tinggallah Chanyeol yang masih menyalahkan dirinya sendiri, sampai akhirnya dua mata sipit milik Baekhyun terbuka. Semua member EXO segera keluar dan membiarkan Baekhyun dan Chanyeol sendiri.
“Mianhae... Mianhae... Mianhae....” hanya itu kata yang terucap dari mulut Chanyeol saat dia berdua bersama Baekhyun. Chanyeol menangis kembali dan terguncang pelan. Baekhyun menatapnya dengan wajah sendunya lalu mengulurkan tangannya. Chanyeol mendekat dan menggenggam erat jemari Baekhyun.
“Kau menangis, Yeol-ah?” Baekhyun bertanya pelan. Chanyeol semakin terisak mendengar pertanyaan Baekhyun. “Sekarang ceritakan padaku, kenapa kau marah tanpa sebab begitu, eoh?” Baekhyun bertanya lembut. Chanyeol menatap Baekhyun lalu menurunkan dahinya. Dia meletakkan dahinya di dahi Baekhyun hingga wajah mereka berdekatan.
“Aku marah, Baeki-ah...! Kau lebih memilih bersama Ipadmu dibanding aku, selain itu kau juga mengatakan saranghae kepada Tao...”
“Kenapa kau marah, Yeol-ah?”
Chanyeol menatap Baekhyun dengan raut wajah bingung. “Apa kau tak tahu?” dia kembali bertanya pelan.
“Ani... kalau kau tak cerita bagaimana aku tahu?” Baekhyun menatapnya lalu perlahan menyentuh kedua pipi Chanyeol.
“Karena aku sangat mencintaimu, Byun Baek! Melebihi apapun di dunia ini! Aku tak akan rela ada yang memilikimu selain aku. Aku sangat mencintaimu.” Chanyeol menatap serius wajah Baekhyun. Entahlah, bagaimana jika Baekhyun menolaknya.
“Jadi kau marah karena cemburu melihatku dan Tao bersama?”
Chanyeol mengangguk.
“Bukannya kau juga sangat dekat dengan Kris hyung?”
Chanyeol mengangguk. “Tapi hanya sebatas kakak-adik sesama rapper..”
“Aku pun begitu, Yeol-ah! Aku hanya menganggap Tao sebagai sahabatku. Aku tidak punya rasa spesial seperti itu. Lagipula, Tao sudah menyukai Kris Hyung...”
“Benarkah? Kris hyung juga bercerita padaku kalau dia menyukai Tao...”
Mereka berdua tertawa.
“Lalu... apakah kau juga menyukaiku, Byun Baek?” Chanyeol menatap mata Baekhyun lembut. Baekhyun menggeleng. Chanyeol kaku dalam sekejap.
“Aku tidak menyukaimu, Yeol-ah... tapi aku mencintaimu....Saranghae... Ceongmal saranghae...”
Barulah Chanyeol tersenyum lebar. “Aku bahkan sangat.. sangat... sangat... sangat mencintaimu, Byun Baek... walaupun aku tahu kalau kau kan masih punya Ipad tersayangmu itu..” kali ini wajah Chanyeol berubah murung. Baekhyun tertwa.
“Apakah kau tahu, Yeol-ah? Ipadku tidak bisa melakukan apa yang kau lakukan padaku...”
“Eh?”
“Seperti menyuruhku membersihkan kamar...”
“Eh?”
“Lalu mengunciku dalam kamar...”
“Eh... mianhae...”
“Atau menangis melihatku sakit dan terluka...”
“Baekki-ah...”
“Gomawo, Yeol-ah...”
“Ada hal lain yang belum bisa dilakukan Ipadmu itu, Byun Baek...”
“Mwo?”
“Contohnya seperti ini...” dalam sekejap Chanyeol mendekatkan bibirnya di bibir Baekhyun. Awalnya Chanyeol hanya berencana untuk mengecup sekilas bibir Baekhyun. Tapi entah kenapa begitu bibirnya menyentuh bibir Baekhyun, dia tak bisa menahan dirinya lagi. Dilumatnya (? Ottokkkeee... #author bingung dan blushing. Maklum masih kecil..#plak! Udah kuliah masih labil aja!) bibir tipis menggoda itu dengan penuh sayang. Chanyeol tersenyum di sela-sela ciumannya. Saat Baekhyun akan melepaskan bibirnya, Chanyeol menahan tengkuk Baekhyun dan memperlama ciumannya.
Chanyeol sempat berbisik lembut di telinga Baekhyun. “Nanti kalau Baekki sudah boleh pulang dari sini, aku akan melakukan hal yang lebih padamu...! Kau tak boleh menolaknya! Arasseo?”
Mendengar ucapan pervert namjacingunya itu Baekhyun hanya bisa ber-blushing ria dan langsung menutup wajahnya dengan selimut. Chanyeol terkekeh geli dan menarik kembali selimut yang menutupi wajah Baekhyun dan menciumnya lagi.
“Hyung, kenapa kau lama seka...li...” Sehun dan yang lainnya masuk dengan tiba-tiba dan langsung shock melihat pemandangan di depannya. Bagaimana tidak, Chanyeol kini berada di atas tubuh Baekhyun dan sedang melumat bibir Baekhyun. Orang yang sedang “kepergok” langsung shock, terutama Baekhyun dan melepaskan tautan bibirnya, namun masih tetap pada posisi seme on top seperti itu. (#plak! Ditampar orang sekampung).
“Wae?” Chanyeol pasang wajah masa bodoh dan menoleh datar ke arah Sehun dkk.
Sehun menoleh ke arah Luhan dengan tampang mupeng. “Hyung, aku juga mau seperti itu....! Ayo pulaaaaanggggg.....” Sehun menarik kencang tangan Luhan diikuti teriakan Luhan yang meminta untuk dilepaskan. Sedangkan KrisTao langsung berbalik arah keluar dari ruangan itu sambil saling bergandengan tangan, D.O langsung menutup mata Kai dan segera menariknya pula dari ruangan itu. Chen dan Xiumin jadi salah tingkah lalu melangkah sambil ber-ohlala, sedangkan Suho dan Lay yang jadi couple terakhir hanya bisa mendesah pendek.
“Aku tak tahu mana yang lebih baik, kalian bertengkar atau kalian seperti ini, membuat teman-teman kalian yang bertengkar...” Suho dan Lay melangkah menyusul mereka semua. Dan sekarang, hanya tinggal author yang terbengong-bengong menatap Chanbaek yang masih pewe dengan posisi mereka sampai...
“Heh, Author kepo! Kenapa masih di sini? Apa kamu mau melihat rate M kami sekarang?”
Author semakin bengong dan melongo.
“Mungkin sekarang Hunhan sedang melakukan Rate M di dorm. Apa kamu tidak ingin meliputnya?
Author geleng-geleng. “Ani... Aniya... aku masih belum cukup mental untuk meliput mereka!”
“Kalau begitu pergilah! Mengganggu saja!”
“Tapi kalian.... Ah, apa kalian ingin membuat rate M juga?” Author pasang wajah kepo plus mupeng karena pengen tahu!
“Loe belum cukup umuuuurrrrr....!!! sana keluaaaaarrrr....!!! Umur boleh udah puber, tapi mental loe masih kayak anak TK! Sanaaa keluaaaaaarrrrr.....!!!”
Author lari keluar ruangan sambil nangis. Hanya yayang Gaara yang bisa menghiburnya saat ini...! Bye...!

~ fin ~

Author : Wuahahahahaha.... baru kali ini ye bikin yang agak nge-plak! Plak! Hiks, paraaah.... ini kok masih kayak anak SMP yang bikin cerpen garing, ya? Hiks... tapi mungkin lebih bagusan anak SMP daripada ini...! Huaaaa.... yayang Gaara... aku ditolak Chanbaek...!! Aku juga belum siap mental buat meliput Hunhan, Kristao, Kaisoo atau Jren...! Huaaaa... hiks..!