Ini adalah sebuah kisah minor yang tersembunyi dari kita... Bahkan cinta pun tak pernah memandang kasta...
Bagian Satu: Makhluk Mungil itu Tuyul?
By Gaachan Uul
Maha suci Allah yang telah menciptakan dunia dan segala isinya, yang telah menjadikan siang dan malam, yang telah menciptakan gelap dan terang, yang telah menciptakan Adam dan Hawa, yang telah menelusupkan iblis di antara mereka hingga mereka terusir dari surga lalu tinggal di bumi dan kita semua terlahir di dunia lewat keturunannya.
Maha suci Allah yang telah menciptakan cinta, yang telah menelusupkan nafsu di dalamnya hingga kekhilafan terkadang terjadi baik yang disengaja ataupun yang tidak disengaja. Maha benar Allah dengan segala firman dan ciptaan-Nya..
***
Dua buah koper tergeletak nggak beraturan di sebuah kamar di salah satu pondok pesantren. Sebagian isinya berhamburan. Baju koko, sarung, celana kain, peci, sajadah, dan sebuah al-quran berceceran dimana-mana. Termasuk di kasur salah penghuni lain kamar itu! Kasur kempes isi kapuk milik Afkar Aidil Furqon, penghuni yang lebih dulu menempati kamar itu. Afkar mendengus. Baru saja dia pulang dari sekolah, sudah capek-capek dari pagi hingga sore, tapi malah disuguhi pemandangan seperti ini. Lalu mana pemilik barang-barang ini? Afkar celingukan, mencari empu pemilik barang-barang ini. Siapa tahu saja dia lagi maen petak umpet di dalam lemari seperti peek-a-boo. Ah, seperti itukah tulisannya?? Nggak tahu, Afkar masa bodoh! Selain karena peraturan pondok adalah dilarang nonton TV, Afkar juga nggak punya minat untuk sekedar kepo.
Lalu tiba-tiba muncul sesosok makhluk mungil dari balik pintu dan nyelonong masuk begitu saja. Makhluk itu bukan tuyul, mengingat ini pondok pesantren yang tentunya selain nggak ada barang berharga juga pasti tuyul takut dengan ayat-ayat al-quran yang ditempel hampir di setiap sudut tempat. Bahkan ada tulisan arab yang mentereng di dekat tempat sampah sana. Tertulis dengan cat warna-warni dan gagah berani. Tulisannya adalah "Annadhafatu minal imaan" yang artinya "kebersihan sebagian dari iman".
Afkar berjengit sebentar lalu menggeleng. Sosok mungil di depannya tersenyum hingga mata sipitnya membentuk seperti bulan sabit, ada dua sumur di kedua pipinya saat dia menarik mulutnya melebar, dan juga ada dua taring yang nongol tanpa permisi dari celah atas bibirnya. Sosok mungil itu punya lesung pipi dan juga memiliki gigi gingsul yang menawan. Ah, jangan-jangan adik dari teman barunya! Tadi sebelum ke sini Afkar dipanggil Ustaz Abri. Katanya hari ini akan ada teman baru di kamarnya. Satu kamar memang berisi dua orang, dan karena hanya tinggal kamar Afkar yang kosong maka mau nggak mau Afkar mengiyakan.
"Kakak kamu mana?" Afkar ingin mendamprat pemilik barang-barang ini. Sosok mungil itu menautkan alis tebal dan runcingnya sesaat lalu tersenyum.
"Assalamualaikum.." ucapnya riang. Afkar sewot. Namun karena menjawab salam itu hukumnya wajib, jadi Afkar memutuskan untuk menjawab salam anak itu lebih dulu.
"Wa'alaikumsalam.."
"Selama tiga tahun ke depan, mohon bantuannya, ya!" dia tersenyum lagi-lagi. Afkar melongo. Tungu! Tunggu! Jangan bilang kalau sebenarnya yang jadi teman sekamarnya adalah...
"Kamu kelas berapa?"
"Kelas satu, ka.. kakak.." anak itu menunduk malu-malu disertai cengiran. Afkar manggut-manggut. Sejak SMP Afkar sudah mondok di sini, jadi SMA dia juga masih di sini. Ternyata teman sekamarnya adalah anak SMP. Dibanding dirinya yang sudah kelas dua SMA, anak ini masih terlihat polos.
"Oh, gitu! Nama kamu?" Afkar ingat anak ini belum memperkenalkan diri. Anak itu menunjukkan cengirannya lalu mengulurkan tangan malu-malu.
"Zain, kak!" saat anak itu sudah mengucapkan namanya, Afkar melirik sekilas lalu menjabat tangannya sebentar dan menyebutkan namanya.
"Afkar."
"Kamu mau mondok cuma tiga tahun? Lalu kalo udah SMA mau di luar gitu?" Afkar basa-basi. Padahal dia nggak minat juga untuk kepo ke anak baru. Zain mengernyit bingung.
"Maksud kakak gimana? Aku udah SMA, kak! Makanya aku cuma tiga tahun di sini, aku mau kuliah di luar kota..."
Mata Afkar membulat seketika. Anak ini sudah SMA? Serius??
"Kamu kelas satu SMA??" Afkar masih bengong. Zain mengangguk sambil menggaruk tengkuknya.
"Waktu SMP aku aksel, kak jadi ya masuk SMAnya kecepetan.."
Walau anak aksel saat SMP pun, mana mungkin dia sekecil ini? Tingginya hanya sebatas dada Afkar. Belum lagi wajahnya, mungkin lebih mirip anak SD.
"Aku bukan anak SD, kak! Bahkan aku sudah dikhitan sejak bayi!" Zain mendengus seolah bisa mendengar pikiran Afkar. Khitan dan sudah besar. Apa ada hubungannya? Afkar makin nggak bisa percaya. Astagfirullah! Lalu? Lalu? Anak ini akan sekamar dengannya? Apa ini artinya dia harus mengasuh bocah? Naudzubillah...
"Oke, ini buat peraturan di kamar ini aja! Karena sekarang ada dua kepala yang tinggal dalam satu kamar, ayo kita buat kesepakatan!" tanpa mengganti seragamnya terlebih dahulu, Afkar langsung mengeluarkan secarik kertas dan sebuah pulpen.
"Ahaha.. aku nggak suka baca, kak! Peraturan itu bukannya buat dilanggar? Kalo nggak ada peraturan kan nggak mungkin ada pelanggaran!" Zain menaik-naikkan alisnya. Afkar melotot kaget, nggak percaya kalau bocah ini sudah berani melawan ucapannya.
"Oke, kita buat ini mudah! Intinya, aku nggak suka kalo kamu ribut, kamu kepoin urusanku dan juga... beresin barang-barang kamu dari atas kasurku!! Sekarang!!" Afkar menjerit. Zain tersenyum, lalu terkekeh pelan.
"Bisa nggak, mas kalo pake istilah kamarku istanaku, atau paling nggak sekarang jadi barangku barangmu juga?" Zain mulai bercanda. Dia pasti bercanda!! Afkar mendengus, dan tanpa kompromi lagi dilemparkannya semua barang yang ada di kasurnya. Barang-barang milik Zain. Ah, selain itu apa katanya tadi? Mas?? Sejak kapan sapaan kakak itu jadi Mas? Afkar ingin protes, tapi dia nggak ingin masalah sepele ini semakin panjang.
"Ini bukan milikku! Ini juga!!"
Zain mematung tanpa berbuat apapun. Astagfirullah! Sabar, Afkar! Sabar...
"Maaf, mas! Tapi bisa nggak beres-beresnya nanti aja?" Zain malah meringis. Afkar makin bete, makin geregetan. "Aku dipanggil ustaz Muhajirin buat ngelengkapin berkas pendaftaran.." ucapnya lagi. Afkar melotot makin kaget. Lalu sejak tadi apa yang dia lakukan? Sebelum emosi Afkar berada di ubun-ubun, Zain melarikan diri dari hadapannya. Begitu Zain menghilang, Afkar menjerit kesal. Untuk pertama kalinya ada yang membuat hatinya panas-dingin nggak tentu begini karena emosi.
Afkar mengganti bajunya, lalu dengan kedongkolan yang masih nempel di hatinya dia merebahkan dirinya di atas kasur dan memaksa memejamkan mata hingga.. dia membuka matanya kembali. Bagaimana dia bisa tidur dengan kondisi kamar yang.. ah! Seperti kapal pecah begini?! Afkar bangun dan tanpa dikomando, dipungutnya baju-baju dan barang-barang Zain dari lantai, dilipatnya baju Zain meski dalam hatinya dia menjerit frustasi. Semuanya tertata rapi hingga Zain kembali.
"Wuaaah.. mas Afkar yang rapiin barang-barangku?" dia terkikik macam anak kecil, dan dengan ekspresi senang dia melompat ke atas kasurnya lalu melihat-lihat tumpukan barangnya. "Bahkan lipatannya simetris banget..! Mas ukur dulu, ya?" dia mengerjap lagi. Afkar mendengus sekilas lalu menutupi tubuhnya dengan selimut. Lamat-lamat didengarnya Zain mengucapkan terimakasih dan memujinya.
***
Setelah sholat maghrib, ada keganjilan yang terjadi. Bukan karena bagian dapur membuat masakan yang agak gosong, bukan! Itu sudah biasa! Tapi setelah semua santri selesai sholat dan keluar dari masjid, tatapan kaget dan saling tuduh mulai menghinggapi mereka. Gimana nggak? Sandal mereka semua menghilang! Bersih!
"Ayo, yang iseng! Cepat kembalikan sandalnya!" para ustaz mulai berkasak-kusuk, mencurigai santri-santri mereka yang melakukannya. Para santri yang juga kehilangan sandal tentu saja nggak mau dituduh. Mana mungkin mereka punya waktu untuk jahil? Sejak tadi mereka kan sholat?
Afkar celingukan. Aneh, sejak tadi juga dia nggak melihat batang hidung si tukang rusuh. Jangan-jangan...
"Afkar.. teman sekamarmu itu kemana?" ustaz Muhajirin menegur Afkar. Afkar bingung, lalu menggeleng.
"Saya tidak tahu, ustaz.."
Seisi masjid mulai bergosip. Astagfirullah..
"Zam, coba cari di sekeliling masjid!" akhirnya ustaz Muhajirin yang saat itu jadi imam memerintahkan salah satu santri untuk mencari. Azam mengangguk lalu mulai berkeliling masjid tanpa menggunakan alas kaki, hingga dia berteriak kencang.
"Ketemu, ustaz! Ketemu...!" dia berteriak kaget. Seluruh santri bergerombol ke arahnya, termasuk ustaz Muhajirin dan Afkar. Di sana, ya di sana... Sandal-sandal jepit murah merk swallow itu berjajar rapi. Ya, rapi karena terikat dengan tali rafia dan berjajar hingga menyerupai pagar. Bagian bawah sandal itu tertancap di tanah dari ujung barat ke ujung timur. Bukan hanya itu, sebuah bendera kecil juga berkibar di tengah-tengah barisan sandal itu. Bendera kecil bertulisan "Rp 10.000 dapat sepasang". Afkar dan yang lain shock lalu kembali ribut. Ini pasti ulah...
"Assalamualaikum..." sebuah suara sontak membuat mereka menoleh. Anak itu tersenyum dengan wajah manisnya yang mirip cewek. Di kepalanya sudah bertengger peci rajut berwarna putih. Dia memakai baju koko dan sarung dan dia juga nggak pakai sandal.
"Kamu yang buat?" Afkar bertanya gemas. Dia terkekeh.
"Menjawab salam hukumnya wajib, lho!"
Sontak seisi masjid menjawab salamnya.
"Waalaikumsalaaammmm...."
"Untuk apa kamu melakukan ini, Zain?" ustaz Muhajirin mulai geram. Zain menunduk malu. Sekarang seluruh santri duduk melingkar, sementara Zain berada di tengah-tengah mereka bersama ustaz Muhajirin. Saling berhadapan, saling pandang. Afkar di belakang ustaz Muhajirin, menatap Zain gemas.
"Kalau saya jujur nanti malah jadi takabur, ustaz!" dia menjawab kalem. Afkar melotot ke arahnya. Santri baru, tapi kelakuannya... Astagfirullah, Afkar ingatlah.. Inallaha ma'asshobiriin.. Allah itu bersama orang-orang yang sabar, jadi sabar saja. Ingat, Allah bersamamu!
"Sudah, ngomong saja! Kalau kamu bohong malah makin dosa!" ustaz Muhajirin makin gemes.
"Ustaz, dosa orang takabur dan orang yang berbohong lebih besar yang mana?" Zain mengerjap. Seisi masjid bersorak riuh. Mereka tertawa dan juga bertepuk tangan karena geli. Ustaz Muhajirin kembali menatapnya galak, tapi yang ditatap seperti itu malah cengengesan.
"Sudah, jawab saja! Bisa saja lebih besar dosa orang yang menjahili teman-temannya saat mereka sedang sholat.."
"Tapi saya punya alasan, ustaz!"
"Sebutkan alasan kamu, Zain!" ustaz Muhajirin masih menggertak.
"Ustaz kepo..." Zain berbisik. Sangat pelan. Namun bisikan itu terdengar oleh semua orang yang berada di sana. Nggak aneh kalau semua orang melongo, lalu memandang Zain yang tertunduk kalem di depan ustaz Muhajirin.
"Zain!!" ustaz Muhajirin mulai emosi.
"Maaf, pak ustaz.. Saya akan menjelaskan alasan saya berbuat seperti itu.." Zain menunduk takzim. "Kemarin saya membaca al-quran, dalam surat At-Taubah ayat 18 mengatakan bahwa 'Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian'..." sampai di sana ucapan Zain terhenti. Ustaz Muhajirin dan yang lain masih menunggu.
"Masih ada terusannya, Zain!"
"Maaf, pak ustaz.. tapi saya nggak hafal.."
Seisi masjid tertawa riuh. Ustaz Muhajirin memijat pelipisnya geram.
"Lalu apa hubungannya dengan ini semua? Kenapa kamu mengambil sandal kami lalu kamu tata dan kamu labeli dengan harga?"
Zain nggak menjawab ucapan ustaz Muhajirin, namun dia berdiri dan mengambil kotak amal di sudut masjid. Sudah berdebu. Isinya bahkan hanya recehan. Kalau ditaksir kira-kira hanya ada dua recehan yang saling bertabrakan di dalam sana.
"Sungguh, pak ustaz.. saya nggak pernah ada maksud apapun, tapi saya ingat surat itu.. saya ingin memakmurkan masjid ini, tapi saya nggak punya uang... Jadi..."
Kali ini seisi masjid malah bengong. Ustaz Muhajirin juga ikut bengong. Afkar menatapnya nggak percaya.
"Tempat sholat imam bocor, karena ini musim kemarau jadi nggak mungkin ada yang sadar tapi kalau musim hujan pasti airnya masuk. Lalu masjid jadi banjir, jadi becek, licin, lalu yang sholat terganggu, lalu bisa saja terpeleset, lalu jatuh, lalu kepalanya luka, lalu masuk rumah sakit, lalu..."
"Baik, baik!! Saya mengerti..." sebelum Zain mengoceh lebih ngelantur lagi, ustaz Muhajirin menghentikannya. Zain membisu seketika. Padahal masih ada kata-kata yang ingin dia ucapkan seperti, "lalu meninggal, lalu dikuburkan, lalu masuk neraka karena semasa hidupnya membiarkan tempat sholat imam bocor.. sehingga kesimpulan akhirnya adalah: bocornya tempat sholat imam menyebabkan kita masuk neraka". Tapi Zain memilih menghentikan ocehannya karena diperintah.
Uztaz Muhajirin masih belum bisa percaya. Ada sesuatu yang menggelitik di hatinya tentang anak di depannya ini. Anak ini unik, dia mencoba memberitahu orang lain dengan caranya sendiri.
"Saya mengerti, nanti saya diskusikan ini dengan ketua pondok!" ustaz Muhajirin mengangguk.
"Syukron, ustaz.."
"Tapi jangan harap kamu bisa lepas dari ini semua! Bagaimanapun, kamu harus dihukum karena menyembunyikan sandal teman-teman kamu dan juga karena bolos sholat jamaah.."
Zain kembali mengerjap polos. Bibir merahnya mengerucut imut, membuat santri-santri di sana ngikik geli. Ingin tertawa tapi sungkan ada ustaz Muhajirin di sana.
"Ustaz, dosa orang menyembunyikan sandal dan dosa orang su'udzon besar mana??" pertanyaan itu lagi-lagi muncul dari bibirnya.
"Zain..."
"Maaf, pak ustaz...! Ustaz sudah buruk sangka sama saya. Tadi saya nggak bolos sholat jamaah, saya ikut di shaf paling belakang karena nggak muat. Saya sholat deket pintu..." Zain menunduk sambil memilin-milin ujung baju kokonya. Ustaz Muhajirin menghela nafas, namun akhirnya memilih untuk menyudahi "persidangan" kecil itu.
"Baik, baik..! Hukuman kamu adalah.. kamu cuci sandal-sandal temen kamu itu, lalu kamu kembalikan ke mereka. Setelah itu, kamu pel masjid ini yang bersih.. Yang lain boleh kembali ke kamar masing-masing. Setelah sholat isya' kita tadarus.."
Para santri itu bubar. Zain ikut pamit dan "mempreteli" hasil karyanya. Dibawanya sandal-sandal itu lalu dicucinya hingga bersih. Saat mengembalikan sandal-sandal itu, Zain selalu mengatakan, "Ini beneran sandal kamu? Awas kalo bohong dosa dan masuk neraka, lho!"
Ustaz Muhajirin hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah anak didik barunya itu, namun dia segera tersadar. Segera dibersihkannya kotak amal yang jadi alasan utama perbuatan Zain tadi, dan perlahan saat kotak itu terbuka, ada selembar uang seratus ribu dan dua buah recehan di sana. Ustaz Muhajirin tersenyum. Anak itu memang benar-benar unik...
TBC
Apa aneh? Apa absurd? Apa... mulai agamis dan nggak suka? tapi udah ada warningnya... kan biar varokah... gitu, gitu... :3