Ini adalah sebuah kisah minor yang tersembunyi dari kita... Bahkan cinta pun tak pernah memandang kasta...
Bagian Satu: Makhluk Mungil itu Tuyul?
By Gaachan Uul
Maha suci Allah yang telah menciptakan dunia dan segala isinya, yang telah menjadikan siang dan malam, yang telah menciptakan gelap dan terang, yang telah menciptakan Adam dan Hawa, yang telah menelusupkan iblis di antara mereka hingga mereka terusir dari surga lalu tinggal di bumi dan kita semua terlahir di dunia lewat keturunannya.
Maha suci Allah yang telah menciptakan cinta, yang telah menelusupkan nafsu di dalamnya hingga kekhilafan terkadang terjadi baik yang disengaja ataupun yang tidak disengaja. Maha benar Allah dengan segala firman dan ciptaan-Nya..
***
Dua buah koper tergeletak nggak beraturan di sebuah kamar di salah satu pondok pesantren. Sebagian isinya berhamburan. Baju koko, sarung, celana kain, peci, sajadah, dan sebuah al-quran berceceran dimana-mana. Termasuk di kasur salah penghuni lain kamar itu! Kasur kempes isi kapuk milik Afkar Aidil Furqon, penghuni yang lebih dulu menempati kamar itu. Afkar mendengus. Baru saja dia pulang dari sekolah, sudah capek-capek dari pagi hingga sore, tapi malah disuguhi pemandangan seperti ini. Lalu mana pemilik barang-barang ini? Afkar celingukan, mencari empu pemilik barang-barang ini. Siapa tahu saja dia lagi maen petak umpet di dalam lemari seperti peek-a-boo. Ah, seperti itukah tulisannya?? Nggak tahu, Afkar masa bodoh! Selain karena peraturan pondok adalah dilarang nonton TV, Afkar juga nggak punya minat untuk sekedar kepo.
Lalu tiba-tiba muncul sesosok makhluk mungil dari balik pintu dan nyelonong masuk begitu saja. Makhluk itu bukan tuyul, mengingat ini pondok pesantren yang tentunya selain nggak ada barang berharga juga pasti tuyul takut dengan ayat-ayat al-quran yang ditempel hampir di setiap sudut tempat. Bahkan ada tulisan arab yang mentereng di dekat tempat sampah sana. Tertulis dengan cat warna-warni dan gagah berani. Tulisannya adalah "Annadhafatu minal imaan" yang artinya "kebersihan sebagian dari iman".
Afkar berjengit sebentar lalu menggeleng. Sosok mungil di depannya tersenyum hingga mata sipitnya membentuk seperti bulan sabit, ada dua sumur di kedua pipinya saat dia menarik mulutnya melebar, dan juga ada dua taring yang nongol tanpa permisi dari celah atas bibirnya. Sosok mungil itu punya lesung pipi dan juga memiliki gigi gingsul yang menawan. Ah, jangan-jangan adik dari teman barunya! Tadi sebelum ke sini Afkar dipanggil Ustaz Abri. Katanya hari ini akan ada teman baru di kamarnya. Satu kamar memang berisi dua orang, dan karena hanya tinggal kamar Afkar yang kosong maka mau nggak mau Afkar mengiyakan.
"Kakak kamu mana?" Afkar ingin mendamprat pemilik barang-barang ini. Sosok mungil itu menautkan alis tebal dan runcingnya sesaat lalu tersenyum.
"Assalamualaikum.." ucapnya riang. Afkar sewot. Namun karena menjawab salam itu hukumnya wajib, jadi Afkar memutuskan untuk menjawab salam anak itu lebih dulu.
"Wa'alaikumsalam.."
"Selama tiga tahun ke depan, mohon bantuannya, ya!" dia tersenyum lagi-lagi. Afkar melongo. Tungu! Tunggu! Jangan bilang kalau sebenarnya yang jadi teman sekamarnya adalah...
"Kamu kelas berapa?"
"Kelas satu, ka.. kakak.." anak itu menunduk malu-malu disertai cengiran. Afkar manggut-manggut. Sejak SMP Afkar sudah mondok di sini, jadi SMA dia juga masih di sini. Ternyata teman sekamarnya adalah anak SMP. Dibanding dirinya yang sudah kelas dua SMA, anak ini masih terlihat polos.
"Oh, gitu! Nama kamu?" Afkar ingat anak ini belum memperkenalkan diri. Anak itu menunjukkan cengirannya lalu mengulurkan tangan malu-malu.
"Zain, kak!" saat anak itu sudah mengucapkan namanya, Afkar melirik sekilas lalu menjabat tangannya sebentar dan menyebutkan namanya.
"Afkar."
"Kamu mau mondok cuma tiga tahun? Lalu kalo udah SMA mau di luar gitu?" Afkar basa-basi. Padahal dia nggak minat juga untuk kepo ke anak baru. Zain mengernyit bingung.
"Maksud kakak gimana? Aku udah SMA, kak! Makanya aku cuma tiga tahun di sini, aku mau kuliah di luar kota..."
Mata Afkar membulat seketika. Anak ini sudah SMA? Serius??
"Kamu kelas satu SMA??" Afkar masih bengong. Zain mengangguk sambil menggaruk tengkuknya.
"Waktu SMP aku aksel, kak jadi ya masuk SMAnya kecepetan.."
Walau anak aksel saat SMP pun, mana mungkin dia sekecil ini? Tingginya hanya sebatas dada Afkar. Belum lagi wajahnya, mungkin lebih mirip anak SD.
"Aku bukan anak SD, kak! Bahkan aku sudah dikhitan sejak bayi!" Zain mendengus seolah bisa mendengar pikiran Afkar. Khitan dan sudah besar. Apa ada hubungannya? Afkar makin nggak bisa percaya. Astagfirullah! Lalu? Lalu? Anak ini akan sekamar dengannya? Apa ini artinya dia harus mengasuh bocah? Naudzubillah...
"Oke, ini buat peraturan di kamar ini aja! Karena sekarang ada dua kepala yang tinggal dalam satu kamar, ayo kita buat kesepakatan!" tanpa mengganti seragamnya terlebih dahulu, Afkar langsung mengeluarkan secarik kertas dan sebuah pulpen.
"Ahaha.. aku nggak suka baca, kak! Peraturan itu bukannya buat dilanggar? Kalo nggak ada peraturan kan nggak mungkin ada pelanggaran!" Zain menaik-naikkan alisnya. Afkar melotot kaget, nggak percaya kalau bocah ini sudah berani melawan ucapannya.
"Oke, kita buat ini mudah! Intinya, aku nggak suka kalo kamu ribut, kamu kepoin urusanku dan juga... beresin barang-barang kamu dari atas kasurku!! Sekarang!!" Afkar menjerit. Zain tersenyum, lalu terkekeh pelan.
"Bisa nggak, mas kalo pake istilah kamarku istanaku, atau paling nggak sekarang jadi barangku barangmu juga?" Zain mulai bercanda. Dia pasti bercanda!! Afkar mendengus, dan tanpa kompromi lagi dilemparkannya semua barang yang ada di kasurnya. Barang-barang milik Zain. Ah, selain itu apa katanya tadi? Mas?? Sejak kapan sapaan kakak itu jadi Mas? Afkar ingin protes, tapi dia nggak ingin masalah sepele ini semakin panjang.
"Ini bukan milikku! Ini juga!!"
Zain mematung tanpa berbuat apapun. Astagfirullah! Sabar, Afkar! Sabar...
"Maaf, mas! Tapi bisa nggak beres-beresnya nanti aja?" Zain malah meringis. Afkar makin bete, makin geregetan. "Aku dipanggil ustaz Muhajirin buat ngelengkapin berkas pendaftaran.." ucapnya lagi. Afkar melotot makin kaget. Lalu sejak tadi apa yang dia lakukan? Sebelum emosi Afkar berada di ubun-ubun, Zain melarikan diri dari hadapannya. Begitu Zain menghilang, Afkar menjerit kesal. Untuk pertama kalinya ada yang membuat hatinya panas-dingin nggak tentu begini karena emosi.
Afkar mengganti bajunya, lalu dengan kedongkolan yang masih nempel di hatinya dia merebahkan dirinya di atas kasur dan memaksa memejamkan mata hingga.. dia membuka matanya kembali. Bagaimana dia bisa tidur dengan kondisi kamar yang.. ah! Seperti kapal pecah begini?! Afkar bangun dan tanpa dikomando, dipungutnya baju-baju dan barang-barang Zain dari lantai, dilipatnya baju Zain meski dalam hatinya dia menjerit frustasi. Semuanya tertata rapi hingga Zain kembali.
"Wuaaah.. mas Afkar yang rapiin barang-barangku?" dia terkikik macam anak kecil, dan dengan ekspresi senang dia melompat ke atas kasurnya lalu melihat-lihat tumpukan barangnya. "Bahkan lipatannya simetris banget..! Mas ukur dulu, ya?" dia mengerjap lagi. Afkar mendengus sekilas lalu menutupi tubuhnya dengan selimut. Lamat-lamat didengarnya Zain mengucapkan terimakasih dan memujinya.
***
Setelah sholat maghrib, ada keganjilan yang terjadi. Bukan karena bagian dapur membuat masakan yang agak gosong, bukan! Itu sudah biasa! Tapi setelah semua santri selesai sholat dan keluar dari masjid, tatapan kaget dan saling tuduh mulai menghinggapi mereka. Gimana nggak? Sandal mereka semua menghilang! Bersih!
"Ayo, yang iseng! Cepat kembalikan sandalnya!" para ustaz mulai berkasak-kusuk, mencurigai santri-santri mereka yang melakukannya. Para santri yang juga kehilangan sandal tentu saja nggak mau dituduh. Mana mungkin mereka punya waktu untuk jahil? Sejak tadi mereka kan sholat?
Afkar celingukan. Aneh, sejak tadi juga dia nggak melihat batang hidung si tukang rusuh. Jangan-jangan...
"Afkar.. teman sekamarmu itu kemana?" ustaz Muhajirin menegur Afkar. Afkar bingung, lalu menggeleng.
"Saya tidak tahu, ustaz.."
Seisi masjid mulai bergosip. Astagfirullah..
"Zam, coba cari di sekeliling masjid!" akhirnya ustaz Muhajirin yang saat itu jadi imam memerintahkan salah satu santri untuk mencari. Azam mengangguk lalu mulai berkeliling masjid tanpa menggunakan alas kaki, hingga dia berteriak kencang.
"Ketemu, ustaz! Ketemu...!" dia berteriak kaget. Seluruh santri bergerombol ke arahnya, termasuk ustaz Muhajirin dan Afkar. Di sana, ya di sana... Sandal-sandal jepit murah merk swallow itu berjajar rapi. Ya, rapi karena terikat dengan tali rafia dan berjajar hingga menyerupai pagar. Bagian bawah sandal itu tertancap di tanah dari ujung barat ke ujung timur. Bukan hanya itu, sebuah bendera kecil juga berkibar di tengah-tengah barisan sandal itu. Bendera kecil bertulisan "Rp 10.000 dapat sepasang". Afkar dan yang lain shock lalu kembali ribut. Ini pasti ulah...
"Assalamualaikum..." sebuah suara sontak membuat mereka menoleh. Anak itu tersenyum dengan wajah manisnya yang mirip cewek. Di kepalanya sudah bertengger peci rajut berwarna putih. Dia memakai baju koko dan sarung dan dia juga nggak pakai sandal.
"Kamu yang buat?" Afkar bertanya gemas. Dia terkekeh.
"Menjawab salam hukumnya wajib, lho!"
Sontak seisi masjid menjawab salamnya.
"Waalaikumsalaaammmm...."
"Untuk apa kamu melakukan ini, Zain?" ustaz Muhajirin mulai geram. Zain menunduk malu. Sekarang seluruh santri duduk melingkar, sementara Zain berada di tengah-tengah mereka bersama ustaz Muhajirin. Saling berhadapan, saling pandang. Afkar di belakang ustaz Muhajirin, menatap Zain gemas.
"Kalau saya jujur nanti malah jadi takabur, ustaz!" dia menjawab kalem. Afkar melotot ke arahnya. Santri baru, tapi kelakuannya... Astagfirullah, Afkar ingatlah.. Inallaha ma'asshobiriin.. Allah itu bersama orang-orang yang sabar, jadi sabar saja. Ingat, Allah bersamamu!
"Sudah, ngomong saja! Kalau kamu bohong malah makin dosa!" ustaz Muhajirin makin gemes.
"Ustaz, dosa orang takabur dan orang yang berbohong lebih besar yang mana?" Zain mengerjap. Seisi masjid bersorak riuh. Mereka tertawa dan juga bertepuk tangan karena geli. Ustaz Muhajirin kembali menatapnya galak, tapi yang ditatap seperti itu malah cengengesan.
"Sudah, jawab saja! Bisa saja lebih besar dosa orang yang menjahili teman-temannya saat mereka sedang sholat.."
"Tapi saya punya alasan, ustaz!"
"Sebutkan alasan kamu, Zain!" ustaz Muhajirin masih menggertak.
"Ustaz kepo..." Zain berbisik. Sangat pelan. Namun bisikan itu terdengar oleh semua orang yang berada di sana. Nggak aneh kalau semua orang melongo, lalu memandang Zain yang tertunduk kalem di depan ustaz Muhajirin.
"Zain!!" ustaz Muhajirin mulai emosi.
"Maaf, pak ustaz.. Saya akan menjelaskan alasan saya berbuat seperti itu.." Zain menunduk takzim. "Kemarin saya membaca al-quran, dalam surat At-Taubah ayat 18 mengatakan bahwa 'Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian'..." sampai di sana ucapan Zain terhenti. Ustaz Muhajirin dan yang lain masih menunggu.
"Masih ada terusannya, Zain!"
"Maaf, pak ustaz.. tapi saya nggak hafal.."
Seisi masjid tertawa riuh. Ustaz Muhajirin memijat pelipisnya geram.
"Lalu apa hubungannya dengan ini semua? Kenapa kamu mengambil sandal kami lalu kamu tata dan kamu labeli dengan harga?"
Zain nggak menjawab ucapan ustaz Muhajirin, namun dia berdiri dan mengambil kotak amal di sudut masjid. Sudah berdebu. Isinya bahkan hanya recehan. Kalau ditaksir kira-kira hanya ada dua recehan yang saling bertabrakan di dalam sana.
"Sungguh, pak ustaz.. saya nggak pernah ada maksud apapun, tapi saya ingat surat itu.. saya ingin memakmurkan masjid ini, tapi saya nggak punya uang... Jadi..."
Kali ini seisi masjid malah bengong. Ustaz Muhajirin juga ikut bengong. Afkar menatapnya nggak percaya.
"Tempat sholat imam bocor, karena ini musim kemarau jadi nggak mungkin ada yang sadar tapi kalau musim hujan pasti airnya masuk. Lalu masjid jadi banjir, jadi becek, licin, lalu yang sholat terganggu, lalu bisa saja terpeleset, lalu jatuh, lalu kepalanya luka, lalu masuk rumah sakit, lalu..."
"Baik, baik!! Saya mengerti..." sebelum Zain mengoceh lebih ngelantur lagi, ustaz Muhajirin menghentikannya. Zain membisu seketika. Padahal masih ada kata-kata yang ingin dia ucapkan seperti, "lalu meninggal, lalu dikuburkan, lalu masuk neraka karena semasa hidupnya membiarkan tempat sholat imam bocor.. sehingga kesimpulan akhirnya adalah: bocornya tempat sholat imam menyebabkan kita masuk neraka". Tapi Zain memilih menghentikan ocehannya karena diperintah.
Uztaz Muhajirin masih belum bisa percaya. Ada sesuatu yang menggelitik di hatinya tentang anak di depannya ini. Anak ini unik, dia mencoba memberitahu orang lain dengan caranya sendiri.
"Saya mengerti, nanti saya diskusikan ini dengan ketua pondok!" ustaz Muhajirin mengangguk.
"Syukron, ustaz.."
"Tapi jangan harap kamu bisa lepas dari ini semua! Bagaimanapun, kamu harus dihukum karena menyembunyikan sandal teman-teman kamu dan juga karena bolos sholat jamaah.."
Zain kembali mengerjap polos. Bibir merahnya mengerucut imut, membuat santri-santri di sana ngikik geli. Ingin tertawa tapi sungkan ada ustaz Muhajirin di sana.
"Ustaz, dosa orang menyembunyikan sandal dan dosa orang su'udzon besar mana??" pertanyaan itu lagi-lagi muncul dari bibirnya.
"Zain..."
"Maaf, pak ustaz...! Ustaz sudah buruk sangka sama saya. Tadi saya nggak bolos sholat jamaah, saya ikut di shaf paling belakang karena nggak muat. Saya sholat deket pintu..." Zain menunduk sambil memilin-milin ujung baju kokonya. Ustaz Muhajirin menghela nafas, namun akhirnya memilih untuk menyudahi "persidangan" kecil itu.
"Baik, baik..! Hukuman kamu adalah.. kamu cuci sandal-sandal temen kamu itu, lalu kamu kembalikan ke mereka. Setelah itu, kamu pel masjid ini yang bersih.. Yang lain boleh kembali ke kamar masing-masing. Setelah sholat isya' kita tadarus.."
Para santri itu bubar. Zain ikut pamit dan "mempreteli" hasil karyanya. Dibawanya sandal-sandal itu lalu dicucinya hingga bersih. Saat mengembalikan sandal-sandal itu, Zain selalu mengatakan, "Ini beneran sandal kamu? Awas kalo bohong dosa dan masuk neraka, lho!"
Ustaz Muhajirin hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah anak didik barunya itu, namun dia segera tersadar. Segera dibersihkannya kotak amal yang jadi alasan utama perbuatan Zain tadi, dan perlahan saat kotak itu terbuka, ada selembar uang seratus ribu dan dua buah recehan di sana. Ustaz Muhajirin tersenyum. Anak itu memang benar-benar unik...
TBC
Apa aneh? Apa absurd? Apa... mulai agamis dan nggak suka? tapi udah ada warningnya... kan biar varokah... gitu, gitu... :3
Catatan Seorang Fujoshi
Minggu, 05 Juni 2016
Minggu, 29 Juni 2014
FF Chanbaek - Nado Saranghae (Part 1)
Ini FF bikinan saya, don't share... boleh dibaca, disimpan, tapi jangan plagiat! Plagiat adalah cerminan bangsa yang memalukan!!!! Nggak suka karena RPF? SO... CHANBAEK aja nggak marah... wkwkwkwkwk....
Rate : (masih) T ---hiksss... hikssss... (mupeng
Rate M)haha...
Cast : Chanbaek (Pairing sejati selamanya)
*Author
POV*
Baekhyun menatap
tumpukan strawberry di depannya dengan wajah mupeng. Dia menatap keranjang demi
keranjang lalu mengusap air liur yang menetes di ujung bibirnya. Buah
kesayangannya itu seolah menari-nari dengan manisnya di depan matanya. Sekali
lagi dia menatap orang yang sedang tersenyum menatapnya.
“Otte? Apa kau bisa
menukarnya dengan wajahmu? Aku juga akan memberimu kompensasi, asuransi dan
juga biaya yang lain. Asalkan kau mau melakukannya!” namja keren di depannya tersenyum
bangga, memamerkan gigi putih rapinya.
“Tapi apa tidak
apa-apa? Bagaimana kalau orang lain tahu?” Baekhyun masih menatap strawberry
itu tanpa berkedip. Dalam sekejap namja keren di depannya memegang erat bahunya
dan tersenyum pelan.
“Sayang sekali kalau
wajah ini tak dimanfaatkan...” namja tampan bernama Chanyeol itu menatapnya
kagum.
“Tapi... orang lain
akan segera mengetahuinya, Yeol-ah...!” Baekhyun menghela nafasnya pelan.
Baekhyun adalah
namja cantik yang selalu menjadi perhatian orang-orang di sekitarnya. Namja,
yeoja, semuanya seolah tersihir dengan wajah cantik dan senyumnya yang hangat
dan imut seperti seorang peri. Yah, saat ini namja cantik itu sedang
mendapatkan tawaran lain untuk menjadi seorang model. Bukan model biasa,
melainkan model yeoja! Dia sudah sering mendapat tawaran seperti ini, tapi kali
ini dia sulit untuk menolaknya, karena namja tampan di depannya yang bernama
Chanyeol ini adalah sahabatnya, teman masa kecilnya. Baekhyun kembali menatap
Chanyeol tak berkedip.
“Kau janji kalau aku
hanya akan melakukannya selama sebulan, eoh? Kontraknya hanya sebulan, kan?” Baekhyun
menatap Chanyeol dengan pandangan memohon.
“Iya, tentu saja aku
akan menepati janjiku! Aku juga akan membelikanmu strawberry setiap hari...”
“Ceongmal?” Baekhyun
menatap Chanyeol dengan wajah senang dan kaget hingga Chanyeol menatapnya
kikuk. Chanyeol tak menyangka kalau Baekhyun akan mudah dibujuk dengan buah
merah itu. Baekhyun benar-benar cantik seperti seorang yeoja hingga membuat
darahnya berdesir dan jantungnya berdegup kencang. Chanyeol mengutuk dalam
hati. Ayolah, Chanyeol... dia itu namja..! Mungkin memang dia bukan namja
“biasa”, tapi ayolah, dia juga sama sepertimu! Chanyeol terus mengutuk dirinya
sendiri dalam hati. Selama ini dia selalu bertemu dengan para model cantik,
namun tak sedetikpun matanya terpaku pada para model cantik itu. Baekhyun
selalu mengganggu pikirannya, membuatnya ingin segera pulang dan bermain di
kamar apartemen milik Baekhyun yang terletak di sebelah kamarnya.
Akhirnya, hari itu
juga Baekhyun pun resmi membuat kontrak sebagai model yeoja pada perusahaan
fashion milik Chanyeol.
*Chanyeol
POV*
Yes! Aku mendapatkan
dia akhirnya!
Aku sejak dulu sudah
menginginkan dia menjadi salah satu model fashion perusahaanku. Aku sangat
mengagumi wajah cantiknya itu, walaupun aku tahu kalau dia adalah seorang
namja. Sayangnya tubuhnya kecil, jadi aku tak bisa membuatnya menjadi model
yang sangat berpengaruh pada perusahaanku. Jadi untuk kali ini ada lowongan
untuk model yeoja sehingga aku merasa kali ini pasti akan cocok.
Dan ternyata benar!
Siang ini dia
benar-benar membuat seluruh perusahaan heboh. Seluruh camera handphone dan
camera yang sedang dipegang pengunjung langsung mengarah ke arahnya dan mencuri
fotonya. Tak hanya itu saja, para namja langsung mendekatinya.
Alasannya sederhana,
karena dia kini berpakaian seperti seorang yeoja. Dia mengenakan sebuah dress
putih berlengan pendek dengan pita di rambutnya yang kini sudah disulap oleh
penata make-up menjadi sepanjang lengannya. Wig. Aku terbengong-bengong
menatapnya dan kemudian tersadar saat Kai tiba-tiba menepuk bahuku.
“Itukah ‘yeoja’
spesial yang kau ceritakan itu?” dia bertanya pelan lalu tersenyum. Aku balas
tersenyum, dan kembali menatap ke arahnya.
“Yeol-ah, ottokke? Apa
baju ini bagus untukku?” Baekhyun melambai ke arahku. Saat dia ingin melangkah
ke arahku, para namja yang sedang mengerubunginya langsung menghalangi
jalannya. Aku merasa geram dengan pemandangan itu. Dengan segera aku
menyusulnya, membuka gerombolan itu dan menarik tangannya.
“Kenapa kami tak
boleh berkenalan dengannya, saejangnim?” para namja itu bertanya pelan, namun
sebenarnya protes.
“Ini merchandise
perusahaan kami, sangat berharga, dan kami mohon kalian tidak menyentuh
seenaknya! Arasseo?” aku memeluknya dan mencoba membawanya dari sana.
“Geunde,
saejangnim....” mereka masih mencoba menyentuh Baekhyunku sampai akhirnya
karena aku sudah kesal, aku segera menggendongnya ala bridal style lalu
melewati gerombolan itu. Sesampainya di lantai dua, aku segera menurunkannya
dari gendonganku.
“Yeol-ah, gomawo...!
Kau tahu, kan itulah salah satu alasan aku sangat benci bertemu dengan
orang-orang...!” Baekhyun tersenyum menatapku. Tersenyum miris tepatnya.
“Tenanglah,
Baekki... aku akan melindungimu! Pasti!” aku memeluk erat tubuh mungil cantik
itu.
*Baekhyun
POV*
“Yak,
bagus... tersenyumlah seperti itu...!” fotografer terus memberikan aba-aba padaku
agar aku segera menuruti instruksinya dengan wajah yang dia inginkan. Aku terus menurut hingga dia tersenyum puas.
“Wah... wajahmu cantik sekali, Baekhyun-ah...! Sepertinya semua orang akan
menganggapmu yeoja..” Dia terus memujiku, sementara Chanyeol mengacungkan kedua
jempolnya padaku. Aku menatapnya sambil tersenyum sendu. Sebenarnya aku sedikit
sedih, mengingat dia selalu tersenyum seperti itu padaku. Senyum seorang
sahabat yang berterimakasih... ya, dia hanya menganggapku sebagai sahabatnya!
“Apa
kau lelah, Baekki-ah?” dia menghampiriku dan mengulurkan sebotol air mineral ke
arahku. Aku tersenyum sumbang dan sedikit menghela nafas berat. Kami mengenal
satu sama lain sejak kelas 6 SD. Saat itu banyak sekali orang yang
menginginkanku, entah itu dengan maksud baik ataupun maksud buruk. Wajahku
telah mengundang banyak perhatian orang dan tentu saja membuat niat jahat
mereka segera muncul begitu tahu kalau aku seorang namja. Chanyeol selalu ada
saat aku butuh, dia selalu melindungiku karena Ayahnya adalah orang yang
berpengaruh, jadi tak ada seorangpun yang berani menyentuhnya. Ibunya sangat
menyayangiku seperti dia menyayangi Chanyeol. Ibu Chanyeol selalu mengatakan
padaku untuk menjaga anaknya, padahal akulah yang selalu dijaga oleh Chanyeol.
Mungkin karena aku yatim piatu.
“Yeol-ah,
apa yang akan kau lakukan nanti sepulang kerja?” aku bertanya pelan. Chanyeol
mengangkat bahu dan kemudian tersenyum.
“Aku
tidak ada planning... wae?”
“Ayo
kita makan di luar.. sudah lama sekali kita tidak pergi ke luar bersama...”
“Hm...
arasseo, bagaimana kalau kau tunggu aku pulang kerja nanti?”
“Oke..”
aku tersenyum senang. Yes! Akhirnya kami punya waktu untuk pergi bersama
setelah beberapa bulan kami sibuk dengan urusan masing-masing. Aku mengangguk
dan segera berlalu untuk sesi pemotretan selanjutnya. Kali ini busana yang
harus aku kenakan bertema little girl, yang mengharuskan aku memasang wajah
seimut-imutnya. Padahal aku ingin sekali ada orang yang mengatakan kalau aku
ini tampan. Tapi sayangnya mereka malah mengatakan bahwa aku cantik.
Semua
orang bengong melihat pose aegyoku di depan kamera, termasuk fotograferku
sendiri. Dengan semangat kemudian dia memotretku dari berbagai gaya dan
tampaknya aku menyuguhkan pemandangan yang indah untuknya.
Setelah
semuanya selesai, aku segera berganti baju dan mencari sosok Chanyeol. Saat aku
mengirim pesan padanya, dia hanya membalas “Aku masih ada urusan, tunggu
aku..!”
Aku
mengangguk mengerti dan segera mencari tempat untuk menunggu Chanyeol. Aku
melangkah pelan menyusuri pintu samping perusahaan yang menghubungkan jalan
masuk dengan restauran dan lobi. Saat itulah langkah kakiku terhenti. Ada
Chanyeol di dalam restauran. Duduk berdua bersama seoerang yeoja cantik. Mereka
terlihat mesra dan saling tertawa. Perlahan dadaku terasa sakit. Sangat sakit.
Berdenyut hebat seperti melihat ada orang yang sedang menghianatiku saat ini.
Aku segera berbalik dan tak terasa tetesan air mata sudah jatuh dari kelopak
mataku.
Ternyata
urusan yang Chanyeol bilang itu adalah urusan dengan yeoja itu. Urusan
bermesraan bersamanya berdua dalam restauran. Dengan tangan yang masih gemetar,
aku segera mengambil HPku dan mengetikkan sesuatu untuk Chanyeol. “Yeol-ah..
mianhae.. sepertinya aku tidak bisa makan di luar bersamamu hari ini. Aku ada
urusan mendadak. Dagh.. mungkin lain kali..”
Begitu
pesan itu terkirim, aku segera berlari keluar perusahaan dan tanpa sengaja aku
menubruk seseorang. Aku segera meminta maaf dan bangkit dari jatuhku. Aku
kembali berlari lalu menyetop taksi dan kembali ke apartemenku. Di dalam
kamarku, barulah aku menumpahkan apa yang kurasakan. Aku menangis kencang,
menyalahkan diriku sendiri kenapa aku harus mencintai orang itu. Seharusnya aku
tak boleh mencintainya, karena dia adalah namja, kau tahu... aku juga namja!
Dia sangat serasi dengan yeoja yang saat ini sedang bersamanya di restauran.
Aku menangis dan akhirnya tertidur.
*Author
POV*
Bel
pintu apartemen Baekhyun berbunyi. Baekhyun segera bangkit dari tidurnya dan
segera membuka pintu apartemennya. Dia langsung shock begitu melihat orang yang
sedang berdiri di depannya adalah Chanyeol.
“Baekki-ah,
kenapa kau belum... eh? Kau kenapa? gwencana? Kenapa matamu bengkak?” Chanyeol
menatap kaget wajah Baekhyun yang saat ini sedang kusut karena menangis
semalaman tadi.
Baekhyun
segera tersadar dari kekagetannya dan menepuk pipinya perlahan. Dia memandang
ke arah lain sampai akhirnya dia mendapatkan ide untuk menjawab pertanyaan
Chanyeol.
“Sebenarnya
tadi malam aku menonton film yang sangat menyedihkan, jadi aku menangis..
karena itulah sekarang mataku seperti ini. Mianhae, yeol-ah..” Baekhyun merasa
sedikit bersalah. Bagaimana kalau dia menggagalkan pemotretan kali ini karena kondisi
mata bengkaknya itu?
“Jadi
urusan yang kau bilang penting itu adalah tentang film?” Chanyeol bertanya
kesal. Baekhyun menunduk sambil menggigit bibir bawahnya. Chanyeol jadi ikut
merasa bersalah kemudian mengulurkan tangannya. “Sudahlah, ayo ikut aku...! Aku
tidak tahu apa dengan kondisimu seperti ini pemotretan masih bisa dilakukan...
tapi siapa tahu saja ada yang bisa kau lakukan di sana!” Chanyeol menarik
tangan Baekhyun. Baekhyun menggeleng horor.
“Yak,
apa kau sudah gila? Aku bahkan belum mandi!” dia protes lalu segera masuk ke
dalam dan segera mandi.
Sesampainya
di perusahaan, Chanyeol segera menemui fotografer kemarin dan terlihat sedang
mendiskusikan sesuatu. Fotografer itu segera mengangguk, menatap Baekhyun
sekilas dan tersenyum senang. Sepertinya dia punya ide yang bagus. Dengan
segera para penata rias segera melakukan tugasnya. Mereka memakaikan sebuah
baju penyihir wanita berwarna hitam yang benar-benar terlihat exotic. Selain
itu, mereka juga memasang sebuah wig hitam lurus yang panjangnya hingga
sepinggul di kepala Baekhyun. Baekhyun benar-benar seperti seorang putri
kegelapan yang sedang kesepian.
“Pose
seperti apa yang harus aku lakukan?” Baekyun menatap fotografernya bingung.
“Cobalah
untuk memasang wajah penuh dendam dan benci melihat sesuatu hingga membuatmu
sakit..”
“Sesuatu
itu seperti apa?” Baekhyun bertanya bingung. Dia tak pernah benci dengan hal
tanpa sebab seperti itu. Dia hanya benci dengan dingin. Karena itulah dia tak
pernah menghidupkan pendingin ruangan saat tidur.
“Baekhyun-ah,
apa kau pernah sakit hati karena seseoang? Misalnya saja ketika pacarmu harus
selingkuh diam-diam dan membuangmu...”
Deg!
Dalam sekejap jantung Baekhyun berhenti berdetak. Sakit hati karena pacarmu
selingkuh dan membuangmu... Perlahan ingatan pahit kemarin saat melihat
Chanyeol dan yeoja itu membuat hati Baekhyun kembali berdenyut sakit.
Tes!
Butiran air mata mulai menetes dari kelopak matanya. Semua orang disana
termasuk Chanyeol menatap Baekhyun kaget. Tanpa pikir panjang lagi sang fotografer
segera mengabadikan momen ini dan berdecak kagum dengan ekspresi yang dibuat
oleh Baekhyun. Baekhyun terus menggigit bibir bawahnya dan meneteskan air mata.
Namun pandangan sedih dan benci tergambar jelas di matanya. Dia hanya terdiam,
menangis, sampai suara fotografernya mencoba membuyarkan adegan itu. Namun
tidak dengan air mata Baekhyun yang tak mau berhenti menetes.
Chanyeol
segera melangkah ke arah Baekhyun. Tanpa pikir panjang lagi dia segera memeluk
Baekhyun.
*Chanyeol
POV*
Sial!
Kenapa dia menangis? Apa ada orang yang melukainya? Siapa? Akan kuhajar dia!
Berani-beraninya dia melukai Baekki-ku!
Aku
terus memeluknya lembut. Air mata yang dia teteskan tadi bukanlah air mata
acting yang dia buat untuk pemotretan ini. Tapi air mata itu benar-benar air
mata karena dia sedang terluka. Bodohnya, aku tak tahu siapa yang telah
melukainya! Kalau saja aku tahu, akan langsung kuhajar orang itu!
“Baekki-ah,
katakan padaku kenapa kau menangis seperti itu...” aku mencoba
menginterogasinya saat kami sedang berada di ruang make up berdua. Dia hanya
menatapku sambil terdiam, lalu menggeleng pelan.
“Aku
hanya menangis karena aku ingat film tadi malam, Yeol..” dia memalingkan
wajahnya. Aku tahu dia sedang berbohong.
“Jangan
berbohong padaku! Katakan yang sebenarnya, Baek...” aku menatap tajam matanya.
Dia menghela nafas dan kembali mengalihkan tatapannya. Aku mulai gusar
melihatnya seperti itu. Dalam sekejap aku langsung memegang erat bahunya dan
memaksanya menatapku. Dia kaget dan akhirnya menatapku walaupun terpaksa.
“Aku
tidak apa-apa! Ini bukan urusanmu!” dia membentak kesal. Aku kaget dengan
reaksinya itu dan langsung menggeram kesal.
“Kenapa
sekarang kau punya rahasia dariku? Katakan yang sebenarnya!” aku masih
memaksanya. Tapi yang kulihat darinya hanyalah tatapan kosong dan enggannya.
Aku menggeram kesal dan menggebrak meja. Aku berdiri dan kemudian
meninggalkannya sendiri setelah mengatakan, “Baik akan kuturui maumu! Kau
sekarang sudah punya privasi yang penting, eoh?”
*Baekhyun
POV*
Aku
tahu kalau dia sedang marah karena aku hanya diam saat dia bertanya seperti
tadi. Tapi aku bisa apa? Tak mungkin kan kalau aku harus mengatakan kalau aku
marah karena diam-diam dia bertemu dengan seorang yeoja. Bukankah dia
mengatakan kalau aku tak boleh menyembunyikan rahasia apapun darinya? Tapi
kenapa dia malah melakukan hal itu?
Dalam
sekejap aku menangis. Sakit rasanya hatiku karena perlakuannya yang egois
seperti itu. Namun akhirnya aku memutuskan untuk berdiri, menghapus air mataku
dan melangkah keluar ruangan make up untuk menyusul Chanyeol, menegaskan apa
yang terjadi sebenarnya. Aku melihat dia sedang berdiri di sudut ruangan lobi.
Dengan segera aku menyusulnya, namun ketika aku akan memanggilnya, yeoja yang
berbicara dengannya di restauran kemarin muncul dan mengajak dia bicara. Aku
menunggu dia selesai bicara dan menatapnya, mengisyaratkan kalau aku juga ingin
bicara.
“Ada
apa?” dia menghampiriku.
“Aku
ingin bicara, sebentar saja..” aku menjawab pelan.
“Maaf,
tapi aku harus rapat sebentar lagi...”
“Tak
bisakah kau bicara denganku dulu? Aku bingung menjelaskan dari mana..” aku
menghela nafas berat.
“Katakan
saja, Baek... aku sedang terburu-buru saat ini..”
“Apakah
kau ada rapat dengan yeoja itu?”
Chanyeol
mengangguk. Aku sedikit tersenyum getir mendengar penjelasannya. Apa yang kau
lakukan, Baekhyun? Mungkin dia lebih memilih yeoja itu daripada kau!
“Baiklah,
aku tak akan mengganggu... jadi aku tak akan mengganggu waktumu saat ini...”
aku mengangguk paham walaupun rasanya hatiku sakit. Aku berbalik dan akhirnya
meninggalkan Chanyeol, namun sebelum aku melangkah lebih jauh, dia menahan
lenganku.
“Katakan
apa yang ingin kau katakan sekarang, Baek...!”
“Ani...
aku tak akan mengatakannya sekarang! Sepertinya kau sedang sibuk!” aku berbalik
lagi dan melangkah pergi.
“Baik
kalau itu maumu, Baek!” dia berteriak kencang, membuat dadaku sakit hingga aku
berpikir kalau aku ingin pingsan saat itu juga.
Aku
terus melangkah meninggalkannya hingga sekali lagi tak sengaja aku menabrak
seseorang hingga aku terjatuh. Orang yang kutabrak langsung ikut duduk di
depanku mengulurkan tangannya.
“Waktu
itu kau juga menabrakku... dan kau juga sedang menangis...” laki-laki itu
tersenyum dan menghapus air mata yang saat ini masih mengalir dari kedua
mataku.
“Mianhaeyo...”
aku hanya mampu berucap seperti itu.
“Gwencana...
kau Baekhyun, kan?” dia kembali menatapku sambil tersenyum. Aku mendongak
menatapnya dan bertanya pelan.
“Ottoke
arayo?”
“Bagaimana
aku tahu? Kau terkenal sekali di sini... juga aku melihat foto-fotomu saat kau
berpenampilan sebagai yeoja... aku suka sekali... kagum dengan wajahmu itu...
bagaimana bisa kau cantik dan tampan dalam waktu yang bersamaan?” dia memujiku.
Aku mengerjap-ngerjapkan mataku dan bertanya senang. Akhirnya ada yang
mengatakan kalau aku tampan.
“Ceongmalyo?”
“Nde,
gereumyo...”
“Gamsahamnida,
eng...”
“Panggil
aku Kris..! aku juga model di sini sama sepertimu.. Bangapta..” dia mengulurkan
tangannya, mengajakku berkenalan.
“Iya...”
perlahan rasa canggungku mulai menghilang.
“Berdirilah,
aku akan mentraktirmu makan! Sebagai tanda perkenalanku..” dia menarik
tanganku. Aku mengangguk senang.
Untuk
pertama kalinya dalam hidupku aku berteman dengan orang lain selain Chanyeol.
Kris orang yang sangat baik. Dia mau melihatku dari sudut pandang seorang
namja, bukan yeoja jadi-jadian yang terperangkap dalam tubuh namja seperti yang
dikatakan orang lain padaku.
*Author
POV*
Baekhyun
dan Kris duduk berhadapan di restauran perusahaan. Baekhyun memesan jus
strawberry kesukaannya dan menatap gelas berisi strawberry itu dengan senang.
Kris yang melihatnya ikut tersenyum geli. Sepertinya dia tahu kalau ternyata
Baekhyun sangat menyukai strawberry.
“Lalu,
kenapa kau selalu menangis dan menabrakku Baekhyun-ah?” Kris bertanya pelan.
Baekhyun mendongak dan menatap arah lain.
“Mianhae,
Kris.. Hyung... aku tak bisa menceritakan hal itu padamu.. karena mungkin
cerita itu agak pribadi..” Baekhyun kembali menatap jus strawberrynya.
“Hm..
arasseo..! aku mengerti..” Kris mengangguk paham dan tersenyum.
“Gomawo,
Kris hyung...” Baekhyun ikut tersenyum. Dia tak butuh teman yang selalu
memujinya saat ini, tapi yang dia butuhkan adalah teman yang mau menerima dia,
mendengarkannya dan juga.... tidak egois. Sepertinya Baekhyun mendapatkan teman
yang baik saat ini.
“Kau
tahu betapa aku sangat menyukaimu, Baekhyun?” Kris bertanya pelan, namun
serius. Baekhyun mendongak dan tersenyum.
“Banyak
orang yang bicara seperti itu padaku...”
“Tapi
aku orang pertama yang mendapat respon baik darimu, kan?” Kris bertanya lembut
hingga membuat Baekhyun yang awalnya kaget jadi ikut tersenyum. Mereka tertawa
bersama.
Begitulah
akhirnya awal pertemanan mereka. Baekhyun datang ke perusahaan, melakukan
tugasnya, lalu pergi bertemu Kris untuk makan siang. Setiap hari selalu seperti
itu, karena kini Chanyeol sudah tak akan peduli padanya lagi. Dia sepertinya
sedang sibuk dengan urusan rapat bersama yeoja waktu itu. Namun di sisi lain
Chanyeol bukannya tidak peduli, tapi diam-diam dia mengawasi setiap langkah
Baekhyun walau tak ada seorangpun yang mengetahuinya.
*Chanyeol
POV*
Aku
menekan kencang dadaku. Aku melihat pemandangan yang sangat tak enak untuk
kulihat. Sangat menyakitkan! Tapi aku tak tahu sebabnya kenapa! Aku hanya
melihat Baekhyunku duduk bersama seorang namja tinggi dan tampan. Mereka
tampaknya sangat mesra. Apalagi namja itu menyentuh-nyentuh pipi, dahi, hidung,
bahkan bibir Baekhyunku. Aku muak! Marah! Ingin aku segera menghajar namja
tinggi itu!
“Sedang
apa kau, Chanyeol-ah?” suara Kai lagi-lagi membuyarkan lamunanku. Dia sedang
berdua bersama seorang namja mungil yang memiliki mata lebar dan terlihat
innocent. Sepertinya mereka sangat dekat. “Oh, kau melihat Baekhyun? Kenapa kau
hanya terdiam di sini? Ke sanalah, kalau kau memang marah! Katakan bahwa
Baekhyun itu milikmu!” Kai memberiku saran yang gila.
“Kau
gila? Mana mungkin aku mengatakannya? Walaupun aku sangat mencintainya, tapi
dia namja...! Aku juga! Walaupun aku tak masalah dengan hal itu asalkan itu
Baekhyun, tapi bagaimana dengannya? Dia pasti akan menolakku!” aku menggeleng
horor.
“Kenapa
dia harus menolakmu? Bukankah kalian saling menyayangi sejak kecil?” Kai
bertanya lagi.
“Tapi
bagaimana dengan orang-orang...?”
“Kau
takut mereka menganggapmu aneh? Bukankah kau ingin sekali melindungi dia dari
mereka? Aku saja tak masalah dengan pandangan orang...”
“Eh?”
aku menatap Kai bingung.
“Iya,
aku seperti ini...” cup! Kai mencium pipi namja di sebelahnya dengan sayang.
“Ini Kyungsoo, namjacinguku...!” dia memperkenalkan namja di sebelahnya padaku.
Aku terbelalak kaget. Kai begitu blak-blakkan menggambarkan cintanya. Aku
kembali menghela nafas dan menoleh ke arah Baekhyun, tapi sayangnya dia sudah
menghilang bersama namja itu!
*Author
POV*
Hari
ini seperti biasa, Baekhyun datang ke perusahaan. Tapi ada yang berbeda.
Baekhyun harus melakukan pemotretan dengan seorang namja. Dan namja itu
adalah....
“Kris..
hyung...?” Baekhyun kaget dan kemudian tersenyum senang.
“Hai,
akhirnya aku bisa juga dapat kesempatan untuk berfoto bersama Baekhyun yang
terkenal itu...!” Kris mendekat ke arah Baekhyun dan mengelus puncak kepalanya.
Saat itulah Chanyeol yang baru masuk melihat adegan itu. Kesabarannya sudah
habis! Dia segera melangkah cepat ke arah Baekhyun dan langsung menepis tangan
Kris dari kepala Baekhyun.
“Jangan
pernah menyentuh Baekhyunku!” dia menatap Kris marah.
“Baekhyunmu?”
Baekhyun dan Kris kompak menjawab. Baekhyun menatap wajah Chanyeol dan kemudian
berkata pelan.
“Ah,
iya... bukannya kau mengatakan bahwa aku adalah merchandise perusahaanmu, kan?
Aku lupa..!” Baekhyun menjawab pelan dan kemudian melangkah menghindari
Chanyeol. Namun sebelum Baekhyun sempat pergi, Chanyeol langsung menggenggam
erat tangannya dan menariknya pergi.
“Yeol-ah,
lepaskan aku!” Baekhyun meronta, memohon agar Chanyeol melepaskan tangannya.
“Kau
gila? Kenapa kau biarkan dia menyentuhmu?” Chanyeol menatap Baekhyun tajam.
“Dia
temanku...”
“Teman?
Apa seorang teman harus saling menyentuh satu sama lain?!!”
“Hei,
kenapa denganmu? Bukankah dia adalah partnerku dan aku harus melakukan
photoshoot dengannya saat ini?” Baekhyun menatap Chanyeol, menantang.
“Apakah
kalian hanya berteman?!!”
“Wae?!
Apa pedulimu, Park Chanyeol?!” akhirnya kesabaran Baekhyun sudah habis. “Kau
boleh berteman dengan yeoja di restauran waktu itu dan menghabiskan seluruh
waktumu untuk rapat dengannya, tapi kenapa aku tidak boleh?”
“Kau
marah karena aku bertemu dengannya? Dengarlah, aku tidak melakukan apapun
dengannya!”
“Apa
peduliku? Bukan urusanku!!” Baekhyun berbalik dan segera kembali pada Kris.
Photoshoot hari itu dibatalkan karena Kris yang memintanya. Tentu saja
alasannya karena Baekhyun sedang tidak dalam mood yang baik, jadi percuma kalau
diteruskan.
Kris
membawa Baekhyun pada suatu tempat asing yang tidak dikenali Baekhyun. Dia
hanya membawa Baekhyun tanpa menjelaskan itu ada dimana. Barulah saat kesadaran
Baekhyun pulih, dia segera bertanya pada Kris sedang berada di mana mereka saat
ini.
“Baekhyun-ah...
ada yang ingin kukatakan padamu saat ini...” Kris menatapnya serius.
“Mwo?”
“Sebenarnya
aku menyukaimu sejak dulu, sejak kau SMP! Aku adalah namja yang mengirimimu
surat setiap hari. Aku adalah orang yang selalu mengawasimu, mencintaimu dan
akan memilikimu..!” pernyataan Kris membuat Baekhyun kaku di tempat. Sebenarnya
dulu ketika dia masih SMP, ada seorang stalker yang selalu mengganggunya,
bahkan berniat untuk menculiknya hingga dia harus menginap di rumah Chanyeol
dan Appa Chanyeol segera mengatasi masalah itu.
“Ja...
Jadi.. kau adalah... namja itu...?” Baekhyun bertanya kaget. Kris tersenyum,
namun senyumnya kali ini bukan senyum lembut seperti biasanya, melainkan
senyuman jahat.
“Tak
ada orang yang bisa memisahkan kita, Baekhyun-ah..! Setelah aku bekerja keras
untuk masuk di perusahaan tempat Park Chanyeol berada, akhirnya kau muncul juga
di depanku. Awalnya aku hanya ingin membuat Park Chanyeol menderita karena
Appanya memisahkan kau dan aku...! Tapi sekarang aku malah ingin memilikimu
lagi..” Kris mendekat ke arah Baekhyun, namun Baekhyun mundur dengan wajah
takut. Air mata sudah menetes pelan di pipinya.
“Menjauhlah,
Kris! Kenapa kau lakukan ini padaku? Ottoke...?”
“Karena
kau mencintai Park Chanyeol, kan? Jadi tak ada jalan lain bagiku untuk
memilikimu selain memaksamu seperti ini...” Kris semakin mendekat. Saat
Baekhyun mencoba melarikan diri, Kris memukul Baekhyun hingga dia tak sadarkan
diri.
*Chanyeol
POV*
Sial!!!
Aku
mengutuk sembari mengumpat. Pikiranku kacau dan aku tak bisa menahan emosi yang
saat ini sedang ada dalam pikiranku. Kenapa aku baru menyadari kalau aku
mencintainya? Aku juga telah berjanji untuk melindunginya, tapi kenapa aku
malah menyakitinya?
Drrrrr....
HPku bergetar. Sebuah telepon dari private number. Kenapa saat suasana hatiku
sedang buruk malah ada orang yang iseng?
“Yeoboseyo..?”
aku mengangkat telpon itu akhirnya.
“Park
Chanyeol-shi? Apa yang sedang kau lakukan saat ini? Haha... sepertinya kau
sedang marah karena Baekhyun kesayanganmu lebih memilih bersamaku..” suara tawa
di sana menggema. Aku tahu suara siapa ini. Kris!
“Odieso?
Dimana kalian?”
“Hoho...
kalau kau memang ingin bertanya padaku, bertanyalah dengan sopan,
Chanyeol-shi...! Hm... saat ini Baekhyun kesayanganmu itu sedang tidur dengan
tenang di sini. Tidur dengan cantiknya..!”
“APA?!!!
APA YANG TELAH KAU LAKUKAN PADANYA?!!!!”
“Hahahaha....
aku sangat menginginkannya! Dan akan kulenyapkan orang yang menghalangi
jalanku! Dia akan kumiliki untukku sendiri!” tut.... telepon itu terputus. Aku
menggebrak meja. Saat ini tak ada gunanya lapor polisi karena dia pasti akan
melakukan sesuatu yang buruk pada Baekhyun. Aku mengambil kunci mobilku dan
menyusuri setiap jalan, hingga Kris menelponku lagi.
“Katakan
dimana kalian..! Jebal...!” aku menangis memohon.
“Hm...
kau menangis, Chanyeol-shi? Hahaha... baiklah, aku akan memberitahumu dimana
kami berada...” Kris menyebutkan sebuah alamat, dan aku segera menuju tempat
itu dengan syarat aku tak boleh membawa polisi. Aku menyanggupinya lalu
melangkah pelan memasuki sebuah gudang tua, tempat Baekhyun saat ini.
Baekhyun-ah, tunggu aku! Baik-baiklah di situ, Baekhyun-ah! Bertahanlah...!
*TBC*
(To
Be Continued, lho ya..! bukan Tubercholosis, lho!)
Hahahaha... rasain, tuh! Kasihan si
Park Chanyeol..! Salah sendiri Baekhyun dicuekin..! Akhirnya Author marah dan
bikin reader penasaran... hahahaha... mau tahu cerita selanjutnya? Kasih tahu
nggak ya...??? (review dulu, dong..! hohohoho...)
Chanyeol : Woi! Mau gue sate, loe?
Author : emang disana ada sate, ya
Yeol? Kanibal, loe! Gue laporin suami gue, loe!
Chanyeol : Siape emang suami loe?
Author : Bang Zhang Yi Xing! Dan
perlu loe tau, Baekhyun itu anak gue dari Bang Lay! Intinya, gue calon mertua
loe! Loe nggak gue restui sama Baekhyun anak gue yang paling cute kalo loe
masih jahatin anak gue!
Baekhyun & Lay : What???!!! Siapa
loe? Ngaku2 aja!
Chanyeol : Rasain, loe author!
Baek... sini, Baek...! Gue ajak rate M-an, yuk!
Baekhyun : Mesum, loe Yeol! Ogah, ah!
Si Author aja bikin rate M masih dibelain bertapa bertahun-tahun dulu!
Chanyeol : Uapaaahhhh...??? padahal
dia kan udah bikin rate M-nya si JRen itu! Pake pasang wajah polos nggak
berdosa, lagi! kenapa gue sama Baekki sayang gak dibikinin juga?!!! Thor, sini
loe Thor!!
Author : Bang Gaaraaaaa.....!!!
Chanyeol marahin aku..!
Gaara : Sini sayang...! Loe berani
sama bini gue, Chan?
Chanyeol : Loe mau sama dia??
Lay : Trus aku sama siapa?
Author : Suho! Kan kalo loe sama gue
fans loe pada marah! Kalo loe sama Suho mereka seneng!
Lay : iya juga, ya..! daripada gue
sama loe..
Author : Loe milik gue,
Yixinnnggggg....!!!!!
Gaara : STOP!!! INI FF APAAN,
SIH?????! SANA, BIKIN SAMBUNGANNYA SANA! HUSH! HUSH! DARIPADA LOE BIKIN OCEHAN
GAK JELAS KAYAK GINI!!
(Dan akhirnya Author diusir oleh
semuanya... Author yang malang...)
FF Chanbaek - Because You Are Mine
By : Gaara Nyunyul
Cast : All Pairing EXO (Chanbaek FULL)
Rate : T--- (mupeng Rate M punya tetangga gara2
masih belom bisa gambarin adegan *ehem* ‘-_-)
Perhatian...!!! Ini Blog gue, ini akun gue, ini
karya gue.. Loe nggak suka? Protes? Hush, hush... nggak penting banget! Kritik
atau saran yang membangun boleh... Kalau hinaan nggak berdasar, bash, bully
atau omongan nggak bermutu mending nggak usah diposting di sini.. ini blog
FUJOSHI!!!
*Author
POV*
Matahari
mulai menyinari sudut dorm EXO yang terlihat masih sepi. Dari salah satu kamar
dalam dorm itu, seorang namja menguap panjang dan menoleh ke arah sudut lain
ruangan. Tampak teman sekamarnya sedang terlelap dengan manisnya. Bibirnya yang
merah dan wajah feminin mirip yeoja itu mengusik perhatian namja di sebelahnya
yang sedang menguap itu. Baekhyun. Begitulah namja cantik itu dipanggil. Dia
begitu cantik hingga membuat semua yeoja iri dengan kecantikan dan keimutannya.
Namun, di sisi lain ada orang yang begitu khawatir dengan kecantikan Baekhyun.
Ya, namja itulah yang sedang menatapnya saat ini dengan pandangan sedih namun
juga bahagia.
“Kenapa
kau melihatku seperti itu?,” Baekhyun, namja yang sedang tidur itu bertanya
tiba-tiba dengan mata terpejam. Namja yang sedang menatapnya kaget dan akhirnya
terjatuh.
“Hehehe...
maaf...,” Chanyeol terkekeh dan bangkit dari jatuhnya.
“Kau
selalu saja menatapku seperti itu saat aku sedang tidur. Apa kau tak punya
kerjaan lain, eoh?”
“Mianhae...
Habis, kau terlalu cantik untuk ukuran seorang namja...bahkan yeoja
sekalipun...” Chanyeol menggaruk tengkuknya malu.
“Kau
menyukaiku?”
“Eh?”
Chanyeol menatap Baekhyun sambil menggaruk kepalanya. Bingung dan gugup sedang
menghantuinya saat ini, saat namja cantik dan imut itu bertanya dengan mimik
muka menantang. Namun, detik berikutnya namja cantik itu meninju lengannya
pelan sambil terkekeh ringan.
“Dasar,
kau ini! Aku Cuma bercanda... tak usah dimasukkan hati! aku hanya sedang
menggodamu...” Baekhyun tersenyum pelan dan kemudian membalikkan badannya.
“Tapi...
tapi... aku benar-benar menyukaimu, baek..” Chanyeol menatapnya sambil
tersenyum. Baekhyun menatapnya kesal kemudian menghela nafas.
“Iya,
iya... aku tahu... Sudahlah, aku sudah tahu... aku ingin tidur, jadi untuk
sementara jangan ganggu aku! Kalau kau kesepian pergilah ke kamar Kai atau
Sehun..”
*Chanyeol
POV*
Aku
benar-benar menyukai Baekhyunku. Sangat menyukainya, eh tidak... aku sangat
mencintainya tepatnya. Sangat mencintainya. Tapi sayangnya apa yang kukatakan
tentang itu bagi Baekhyun seperti bercandaanku saja. Bagaimana bisa aku
mengatakan semua padanya kalau aku benar-benar mencintainya sementara dia
sendiri saja tak pernah mengatakan kalau dia mencintaiku. Aku terus terang iri
saat melihat kedekatan Sehun dan Luhan yang selalu pamer kemesraan setiap
mereka bertemu. Sementara Baekhyunku selalu menghindar saat aku ingin memeluk
atau hanya sekedar mendekat padanya. Kami selalu bertengkar tentang apapun yang
berbeda, dan itupun hanya masalah yang kecil seperti rasa es cream apa yang
ingin kami beli. Aku suka rasa pisang, tapi baekhyun menyukai strawberry hingga
akhirnya aku yang harus mengalah dan kami membeli rasa yang sama, strawberry.
Baekhyun
yang selalu kupanggil dengan Byun Baek itu telah mengisi hatiku sejak awal
training. Awalnya aku mengenalnya, lalu kemudian mengaguminya, menyayanginya
lalu akhirnya pun aku mencintainya. Para fans yang selalu membuat fanfiction
tentang kami, entah itu aku yang lemah lembut pada Baekhyun atau kisah cinta
kami yang akhirnya berakhir tragis. Padahal hari-hari kami di sini selalu diisi
dengan pertengkaran-pertengkaran yang tak akan lebih lama daripada tiga hari.
Terkadang dia menghindariku jika kami sedang marah tapi kemudian dalam sekejap
dia akan menempel padaku.
“Yeol-ah,
apa yang kau lakukan?” suara Baekhyun terdengar di telingaku saat aku sedang
duduk di pojok ruangan tempat nonton TV.
“Byun
Baek..? kenapa kau sudah bangun? Kukira kau tak akan bangun secepat ini, eoh?”
aku kaget melihatnya mengucek matanya dan melangkah pelan ke arahku. Aku
mendongak menatapnya tanpa berkedip. Rambut berantakan, baju kusut, mata
ngantuk dan bibir merah itu membuat darahku berdesir. Aku benar-benar gila! Apa
ini karena aku sering membaca fanfic yang saat ini telah beredar luas di
internet tentang aku dan Baekhyun, ya?
“Aku
kedinginan...” Baekhyun kembali menguap dan merentangkan tangannya. Aku tertawa
sumbang mendengar ucapannya dan kemudian berpaling darinya. “Padahal aku sudah
mengatur pemanas ruangan lebih tinggi dari biasanya...” dia duduk di sofa tepat
di depanku dan menoleh ke arahku.
“Hahahaha....
kau tahu, kan kalau sekarang sudah hampir masuk musim dingin. Pakailah pakaian
tebalmu, nanti kau sakit! Nanti member EXO-M akan datang dan akan tinggal
beberapa hari.” aku mengalihkan pembicaraan. Aku baru saja mendapat telepon
dari Kris hyung dan dia mengabarkan hal itu. aku rasa Suho hyung juga sudah
mendengarnya.
“Oh,
begitu...” dia mengangguk-angguk mengerti. Namun baru beberapa saat kami
menikmati momen berdua ini, maknae cadel kami mulai menginterupsi. Dia duduk
seenaknya di sebelah Baekhyun dan menghidupkan TV. Wajahnya terlihat ceria dan
senang.
“Hei,
hei... kenapa wajahmu terlihat senang sekali, eoh? Apa karena nanti member
EXO-M akan datang? Kau ingin sekali bertemu dengan hyung kesayanganmu itu, ya
Sehun-ah?” Baekhyun mencolek pipi Sehun yang saat ini sedang tersipu karena
senang.
“Yak..
hyung, berhentilah menggangguku! Saat ini aku sedang tidak ada mood untuk
bermain denganmu!” Sehun protes mendengar gurauan Baekhyun.
“Bukannya
tadi kau baru saja menelponnya, ya Sehun-ah..?” sang Leader, Suho muncul sambil
tersenyum ke arah Sehun.
“Jinja?
Kau benar-benar menyukainya, ya Sehun-ah?” aku pura-pura terkejut, walaupun aku
tahu mereka tak akan pernah dipisahkan walau banyak fans yang memasangkan Sehun
dengan Kai atau lainnya.
“Ani,
aku tidak menyukainya...” Sehun menjawab sambil menatapku datar.
“Ceongmal?
Wah, Luhan hyung harus mengetahui ini semua kalau namja yang selalu menggodanya
ini ternyata tidak menyukainya...” Baekhyun mendekat, menatap tajam Sehun, membuatku
membelalakkan mata. Siapa yang tidak ingat waktu showcase itu? baekhyun dengan
gampangnya mengatakan kalau dia pernah mandi dengan Sehun! Padahal aku juga
sering mandi dengannya walau harus menahan diri agar tidak berbuat yang
tidak-tidak.
“Naneun...
Luhan hyung chua-anigotdeun...! geundae... sarang...! sarang...! naneun Luhan
hyung saranghae... arasseo?” Sehun berucap ketus dengan aksen cadelnya.
Ah,
ya... pernahkah Baekhyun mengatakan saranghae padaku? Setauku dia lebih
mencintai Ipadnya dibanding aku. Ah, mengingatnya saja rasanya aku ingin sekali
menjerit dan memukul tembok hingga hancur!!!
*Author
POV*
Akhirnya
malam harinya para member EXO-M sampai di dorm EXO. Mereka baru saja
menyelesaikan konser mereka di China. Luhan langsung diserbu oleh Sehun. Luhan
yang masih berwajah seperti anak kecil itu langsung shock melihat Sehun
langsung memeluknya dan membenamkan wajahnya di leher Luhan.
“Luhan
hyung, bogoshippo... Tahukah hyung bahwa aku sangat merindukanmu?” Sehun mulai
bermanja-manja dengan Luhan. Chanyeol menatap mereka sambil tersenyum miris.
Tersenyum miris karena iri dengan kedekatan mereka. Ia ingin seperti itu juga
dengan Baekhyun.
“Yo,
Chanyeol...!” Kris menyapa Chanyeol dan mereka berhigh-five seperti gaya para
rapper. Tao yang membawa oleh-oleh dari China segera menyerobot mereka dan
langsung memanggil Baekhyun.
“Beef,
aku bawa oleh-oleh...” ucapnya sambil meletakkan bungkusan berisi makanan itu
di atas meja.
“Ige
mwoya?” Baekhyun menatapnya dengan penuh tanda tanya.
“Ini
makanan khas dari suatu daerah di China. Aku tahu kau belum merasakannya, jadi
ayo makanlah...” Tao tersenyum. Baekhyun ikut tersenyum dan melompat ke dalam
pelukan Tao.
“Gomawo,
Tao.... Saranghae...”
Deg!
Detak jantung Chanyeol seolah terhenti begitu saja mendengar ucapan Baekhyun
pada Tao. Chanyeol ingin menjerit saat itu juga kalau saja Kris tidak menepuk
bahunya, menyadarkannya.
“Hei,
apa kau tahu lagi ini? Ini lagu baru yang sekarang sedang trend di China..”
Kris menunjukkan MP5nya pada Chanyeol. Chanyeol menoleh ke arah Kris, tersenyum
lalu meraih headphone Kris dan mendengarkan lagu yang Kris rekomendasikan itu.
“Lagu
apa ini? Enak sekali...” Chanyeol terkekeh dan tersenyum sambil asik menikmati
alunan musik di telinganya. “Untuk saat ini aku akan menyembunyikan perasaanku
dengan lagu saja.” Chanyeol membatin.
*Baekhyun
POV*
Pabo!!
Ugh, kenapa anak itu sepertinya cuek sekali padaku? Apa aku berbuat kesalahan
padanya? Ah, bukannya biasanya dia selalu mengatakannya padaku kalau sedang
marah? Dia bukan orang yang akan diam saat dia marah. Dia akan mengatakannya
saat itu juga, kan? Kulihat dia sedang bersama Kris hyung. Biasanya saat dia
sedang kesal padaku dia akan segera mendekati Kris hyung. Aku tak tahu kenapa
Chanyeol bertingkah seperti itu padaku saat ada member EXO-M seperti ini.
“Beef...”
Tao menepuk pelan pundakku. Aku menoleh ke arahnya dan menyuapkan makanan oleh-oleh
Tao tadi ke mulutku. “Wae? Kau kelihatannya kurang senang. Apa kau tidak senang
aku disini, eoh?” Tao menatapku cemberut.
“Ah,
ani... aku suka kalau kau di sini, Tao... hanya saja aku sedang banyak pikiran
saat ini...”
“Masalah
apa? Ceritakan saja padaku, siapa tahu aku bisa bantu..”
“Aku
juga bingung masalahnya apa, Tao...” aku menatapnya pasrah dan kemudian terdiam
tanpa ada hal yang ingin kuceritakan sampai tangan besar Tao yang biasanya
digunakan untuk wushu menyentuh pelan dahiku.
“Pantas
saja aku merasa ada yang aneh denganmu. Badanmu panas begini, apa kau tidak
sadar, eoh?”
“Jinja?”
aku menyentuh dahiku sendiri dengan tatapan tak percaya. Memang lumayan panas.
“Pantas saja saat aku menghidupkan pemanas ruangan aku tidak merasakan apapun
dan tetap saja kedinginan..”
“Kau
juga memakai baju yang tipis, beef..” Tao menyentuh bajuku. Aku memandang
bajuku dan mengangguk paham.
“Hmm...
aku lupa kalau sekarang sudah masuk musim dingin..”
“Pakai
ini, beef...” Tao melepaskan jaketnya dan menyelimutkannya pada bahuku.
“Tidak
usah, nanti kau juga kedinginan...”
“Jangan
menolak! Aku tahu kalau kau sedang ada masalah. Dan yang selalu membuatmu
seperti ini biasanya masalah dengan Chanyeol...”
Aku
menatapnya sendu. Sahabatku yang satu ini memang benar-benar mengerti aku. Tao
menepuk lembut bahuku dan menggandeng tanganku masuk sampai aku mendengar suara
Chanyeol di depan kami.
“Apa
kalian bersenang-senang?” dia bertanya pedas. Aku tidak mengerti kenapa
tiba-tiba dia semarah itu padaku.
“Tentu
saja, kenapa aku harus sedih kalau ada Tao di sini?” tantangku berani. Chanyeol
menatapku kesal. Aku balas menatapnya marah.
“Sebenarnya
apa masalahmu denganku? Kenapa kau mengacuhkanku?” Chanyeol menatapku gusar.
Aku balas menatapnya.
“Bukannya kau yang sedang marah
padaku?” aku kembali membalikkan pertanyaan yang sama.
“Sudahlah, Byun
Baek! Kau tahu kalau sekarang kau yang harus membersihkan kamar kita karena kau
kalah main game denganku tadi malam..” Chanyeol sedikit membentak.
“Tidak bisakah aku
melakukannya nanti? saat ini aku sedang ada urusan..” aku menolak. Tao
menatapku tak enak. Kris hyung yang melihat pertengkaran kami segera
mengisyaratkan Tao untuk meninggalkan aku dan Chanyeol. Kris hyung menarik
lengan Tao dan pergi dari hadapan kami.
“Urusan? Oh..rupanya
kau sedang sibuk, byun baek hingga kau punya waktu untuk berdua bersama dengan
Tao... Makan makanan yang dia bawa berdua...” Chanyeol menatapku marah. Aku
lelah untuk berdebat dengannya saat ini. Tenggorokanku terasa sakit saat
menelan.
“Aku mengerti. Aku
akan melakukan apa maumu!” aku beranjak dari hadapannya dan kembali ke kamarku.
Pandanganku berkunang-kunang. Apa aku sakit saat ini?
“Apa yang kau
lakukan? Sana cepat sapu dan pel ruangan ini..” Chanyeol muncul di belakangku
dan menyuruhku. Aku melangkah pelan mengambil sapu di sudut ruangan. Kepalaku
berdenyut dan badanku mulai meriang.
“Kenapa gerakanmu
lambat sekali, byun baek? Apa kau mau tiga hari lagi baru selesai?” dia mulai
berteriak lagi. Tolong, jangan berteriak padaku, Yeol..! Kau tahu aku sangat
benci itu!
“Jangan berteriak,
aku tidak tuli!!” aku ikut emosi mendengar teriakannya.
“Kalau kau tidak
ingin aku berteriak, segera lakukan apa tugasmu!” Chanyeol segera
meninggalkanku sendiri di kamar. Aku dengar dia mengunciku dari luar. “Lakukan
tugasmu atau kau akan terkunci di kamar”, dia melangkah pergi. Aku kembali
tertunduk lesu.
*Author
POV*
Baekhyun menatap
seisi kamar dengan pandangan lesu. Kepalanya mulai berdenyut, kali ini lebih
keras dari yang tadi. Denyutnya semakin keras saat dia mulai menggerakkan
badannya membersihkan ruangan miliknya dan Chanyeol ini. Dia terduduk lesu di
sebelah tempat tidurnya dan mencoba menguasai diri. Sementara itu, Chanyeol
melipat wajahnya dan bergabung dengan Kris dan yang lainnya. Semua orang memandangnya
namun tak berani bertanya. Happy virus itu seolah berubah menjadi orang lain
saat marah. Di dalam hatinya, sebenarnya dia mengutuk apa yang dia lakukan dan
dia katakan pada Baekhyun. Dia terlalu emosi dan mengatakan hal itu padanya.
Padahal sebenanya dia hanya ingin Baekhyun tidak bermanja-manja dengan Tao.
Apalagi saat dia mengatakan Saranghae dengan mudahnya, membuat dia semakin
muak. Sangat muak sampai dia ingin membawa Baekhyun, menguncinya dalam kamar
dan mengklaim bahwa Baekhyun hanya miliknya seorang.
“Hyung, apa yang kau
lakukan pada Baekhyun hyung?” Sehun yang memang evil itu bertanya to the point
sementara Luhan langsung menutup mulut maknae itu lembut dan meletakkan jari
telunjuk di bibirnya. Sehun menurut untuk menutup mulutnya, tersenyum lalu
kembali bersandar pada Luhan. Suho yang sedang duduk bersama Lay menghela nafas
melihat tingkah Sehun yang kekanakan itu.
“Hyung, apa kau
tidak keterlaluan? Biasanya kau tidak marah sampai sekeras ini pada Baekhyun
hyung...” D.O ikut penasaran. Kai yang mendengar namjachingunya ikut menyela,
langsung mengikuti jejak Luhan, menutup mulut D.O, tapi D.O langsung menggigit
tangan Kai hingga Kai berteriak kesakitan.
“Biarkan saja dia!”
Chanyeol melangkah meninggalkan mereka dan keluar. Tao menatap Kris dengan
pandangan memohon.
“Dia membawa kunci
kamarnya” Kris menjawab pandangan Tao dengan wajah penuh rasa bersalah.
“Apa tidak bisa kita
cari kunci duplikatnya, hyung?” D.O kembali bersuara sambil menatap Suho.
“Manager hyung yang
membawanya. Aku juga tak bisa menghubunginya sejak tadi.” Suho kali ini yang
merasa bersalah.
“Bagaimana kalau aku
yang mendobrak pintunya?” Tao mengusulkan dengan wajah cemas.
“Tidak, kita akan
dimarahi kalau sampai manager hyung tahu...” Chen menjawab ide gila Tao.
“Sayangnya jendela
kamar mereka memiliki terali besi...” Xiumin menghela nafasnya dan menggaruk
kepalanya dengan gusar.
“Aku akan mencoba
membujuknya...” Kris melangkah menyusul Chanyeol yang kemudian diikuti Suho.
Sementara itu,
Baekhyun di kamar sedang menangis. Dia menatap seisi ruangan sambil mengusap
air matanya. Dia mencoba bangkit dari duduknya sambil meraih sapu yang berada
tak jauh darinya. Namun sayangnya, kepalanya yang sejak tadi berdenyut mulai
tak bisa dikompromi. Saat itu juga dia terjatuh dan tak sadarkan diri.
Satu jam berlalu,
saat ini Tao dan yang lain mondar-mandir tak jelas di ruang tengah. Tao
menghela nafasnya berkali-kali sambil mengacak rambutnya.
“Kenapa mereka lama
sekali? Apa mereka tidak tahu kalau Beef mungkin sedang sakit di dalam sana?”
Tao berteriak kesal.
“Sakit?” Chen
bertanya cepat. Tao menoleh dan langsung melompat kaget, menyadari sesuatu
tentang kondisi Baekhyun terakhir kali bersamanya tadi.
“Bolehkah aku
mendobrak pintunya kalau Baekhyun tak menjawab panggilanku hingga lima kali?”
Tao menatap semua member EXO kecuali Chanyeol, Kris dan Suho yang mungkin
mereka kini sedang bernegosiasi.
“Baiklah, lakukan
saja, Tao..” D.O yang super bijak (#Plak!! Untuk author) segera mengangguk
paham. Sehun ikut mendekat sementara Luhan menggenggam erat lengannya takut dan
cemas.
“Beef...”
“....”
“Beef, jawab aku...!
Gwencana?”
“....”
“Beef, kami hanya
ingin tahu kau tidak apa-apa di dalam sana! Kris gege dan Suho hyung sedang
mencari Chanyeol...”
“....”
“Hyung, buka
pintunya...! kami mohon..!” kali ini D.O ikut ambil suara.
“....”
“Sepertinya ini
sudah kelima kalinya kita memanggil... Baekhyun-ah, buka pintunya....” Chen
ikut berteriak sambil menggedor pintu. Akhirnya Tao, Sehun dan Chen mulai
bersiap untuk mendobrak. Mereka mundur perlahan, sampai akhirnya suara Suho
muncul.
“Chakkaman...”
mendengar interupsi dari leader mereka, semua orang menatapnya. Chanyeol
menatap mereka semua dengan pandangan datar dan ogah-ogahan. Melihat reaksi
Chanyeol, Tao menangis pelan. Kris yang melihat namjachingu kesayangannya
menangis segera mendekat dan memeluknya.
“Ada apa?” dia
bertanya pelan.
“Gege... beef.. apa
dia tidak apa-apa?”
“Memangnya dia
kenapa?” kali ini Chanyeol yang bereaksi.
“Baekki hyung sedang
tidak baik-baik saja saat ini.. Kami sudah memanggilnya dari tadi, tapi tak ada
sahutan dari dalam... Kami khawatir kalau dia kenapa-napa di dalam sana..”
Sehun menjawab pelan. Chanyeol membelalakkan matanya dan langsung mengeluarkan
kunci kamarnya dan membuka pintu kamarnya dengan tidak sabaran sampai dia
menemukan tubuh Baekhyun yang tergeletak tak sadarkan diri di sudut ruangan
dengan air mata yang menggenang di sudut matanya. Melihat pemandangan
menyakitkan itu, Chanyeol langsung kalap. Dia berlari mendekat ke arah
Baekhyun, mengguncang tubuh Baekhyun dengan kasar.
“Yak, Byun Baek!!
Ireona!! Sadarlah!! Maafkan aku!! Bangunlah, Byun baek! Yak! Pabo!!” Chanyeol
terus mengguncang tubuh Baekhyun sambil menangis histeris. Suho dan yang
lainnya segera menenangkan Chanyeol dan langsung membawa Baekhyun ke rumah
sakit. Sepanjang jalan Chanyeol hanya mengutuk dirinya sendiri dan menangis.
“Chanyeol-ah!
tenanglah! Apa kau tidak bisa tenang saat seperti ini? Kenapa emosimu berbeda
dengan yang tadi? sekarang kau tahu bagaimana rasanya kalau Baekhyun jadi seperti
ini, hah? Bukannya kau bilang kau tak peduli?” Suho marah. Chanyeol terdiam
mendengar ucapan Suho. Dia meremas rambutnya gemas, sampai akhirnya dokter
keluar dari ruangan Baekhyun tadi.
“Dokter, ottokeyo?”
Chanyeol langsung menyerbu dokter itu.
“Dia hanya anemia.
Mungkin dia juga kurang tidur dan juga kelelahan. Antibodinya juga sedang lemah
saat ini, jadi gampang terserang demam. Dia tidak apa-apa, saat bangun nanti
kalian boleh membawanya pulang...” dokter itu tersenyum lalu berlalu. Chanyeol
dan yang lainnya menghela nafas lega dan segera memasuki ruangan rumah sakit
untuk melihat keadaan Baekhyun. Kini tinggallah Chanyeol yang masih menyalahkan
dirinya sendiri, sampai akhirnya dua mata sipit milik Baekhyun terbuka. Semua
member EXO segera keluar dan membiarkan Baekhyun dan Chanyeol sendiri.
“Mianhae...
Mianhae... Mianhae....” hanya itu kata yang terucap dari mulut Chanyeol saat
dia berdua bersama Baekhyun. Chanyeol menangis kembali dan terguncang pelan.
Baekhyun menatapnya dengan wajah sendunya lalu mengulurkan tangannya. Chanyeol
mendekat dan menggenggam erat jemari Baekhyun.
“Kau menangis,
Yeol-ah?” Baekhyun bertanya pelan. Chanyeol semakin terisak mendengar
pertanyaan Baekhyun. “Sekarang ceritakan padaku, kenapa kau marah tanpa sebab
begitu, eoh?” Baekhyun bertanya lembut. Chanyeol menatap Baekhyun lalu
menurunkan dahinya. Dia meletakkan dahinya di dahi Baekhyun hingga wajah mereka
berdekatan.
“Aku marah,
Baeki-ah...! Kau lebih memilih bersama Ipadmu dibanding aku, selain itu kau
juga mengatakan saranghae kepada Tao...”
“Kenapa kau marah,
Yeol-ah?”
Chanyeol menatap
Baekhyun dengan raut wajah bingung. “Apa kau tak tahu?” dia kembali bertanya
pelan.
“Ani... kalau kau
tak cerita bagaimana aku tahu?” Baekhyun menatapnya lalu perlahan menyentuh
kedua pipi Chanyeol.
“Karena aku sangat
mencintaimu, Byun Baek! Melebihi apapun di dunia ini! Aku tak akan rela ada
yang memilikimu selain aku. Aku sangat mencintaimu.” Chanyeol menatap serius
wajah Baekhyun. Entahlah, bagaimana jika Baekhyun menolaknya.
“Jadi kau marah
karena cemburu melihatku dan Tao bersama?”
Chanyeol mengangguk.
“Bukannya kau juga
sangat dekat dengan Kris hyung?”
Chanyeol mengangguk.
“Tapi hanya sebatas kakak-adik sesama rapper..”
“Aku pun begitu,
Yeol-ah! Aku hanya menganggap Tao sebagai sahabatku. Aku tidak punya rasa
spesial seperti itu. Lagipula, Tao sudah menyukai Kris Hyung...”
“Benarkah? Kris
hyung juga bercerita padaku kalau dia menyukai Tao...”
Mereka berdua
tertawa.
“Lalu... apakah kau
juga menyukaiku, Byun Baek?” Chanyeol menatap mata Baekhyun lembut. Baekhyun
menggeleng. Chanyeol kaku dalam sekejap.
“Aku tidak
menyukaimu, Yeol-ah... tapi aku mencintaimu....Saranghae... Ceongmal
saranghae...”
Barulah Chanyeol
tersenyum lebar. “Aku bahkan sangat.. sangat... sangat... sangat mencintaimu,
Byun Baek... walaupun aku tahu kalau kau kan masih punya Ipad tersayangmu
itu..” kali ini wajah Chanyeol berubah murung. Baekhyun tertwa.
“Apakah kau tahu,
Yeol-ah? Ipadku tidak bisa melakukan apa yang kau lakukan padaku...”
“Eh?”
“Seperti menyuruhku
membersihkan kamar...”
“Eh?”
“Lalu mengunciku
dalam kamar...”
“Eh... mianhae...”
“Atau menangis
melihatku sakit dan terluka...”
“Baekki-ah...”
“Gomawo, Yeol-ah...”
“Ada hal lain yang
belum bisa dilakukan Ipadmu itu, Byun Baek...”
“Mwo?”
“Contohnya seperti
ini...” dalam sekejap Chanyeol mendekatkan bibirnya di bibir Baekhyun. Awalnya
Chanyeol hanya berencana untuk mengecup sekilas bibir Baekhyun. Tapi entah
kenapa begitu bibirnya menyentuh bibir Baekhyun, dia tak bisa menahan dirinya
lagi. Dilumatnya (? Ottokkkeee... #author bingung dan blushing. Maklum masih
kecil..#plak! Udah kuliah masih labil aja!) bibir tipis menggoda itu dengan
penuh sayang. Chanyeol tersenyum di sela-sela ciumannya. Saat Baekhyun akan
melepaskan bibirnya, Chanyeol menahan tengkuk Baekhyun dan memperlama
ciumannya.
Chanyeol sempat
berbisik lembut di telinga Baekhyun. “Nanti kalau Baekki sudah boleh pulang
dari sini, aku akan melakukan hal yang lebih padamu...! Kau tak boleh menolaknya!
Arasseo?”
Mendengar ucapan
pervert namjacingunya itu Baekhyun hanya bisa ber-blushing ria dan langsung
menutup wajahnya dengan selimut. Chanyeol terkekeh geli dan menarik kembali
selimut yang menutupi wajah Baekhyun dan menciumnya lagi.
“Hyung, kenapa kau
lama seka...li...” Sehun dan yang lainnya masuk dengan tiba-tiba dan langsung
shock melihat pemandangan di depannya. Bagaimana tidak, Chanyeol kini berada di
atas tubuh Baekhyun dan sedang melumat bibir Baekhyun. Orang yang sedang
“kepergok” langsung shock, terutama Baekhyun dan melepaskan tautan bibirnya,
namun masih tetap pada posisi seme on top seperti itu. (#plak! Ditampar
orang sekampung).
“Wae?” Chanyeol
pasang wajah masa bodoh dan menoleh datar ke arah Sehun dkk.
Sehun menoleh ke
arah Luhan dengan tampang mupeng. “Hyung, aku juga mau seperti itu....! Ayo
pulaaaaanggggg.....” Sehun menarik kencang tangan Luhan diikuti teriakan Luhan
yang meminta untuk dilepaskan. Sedangkan KrisTao langsung berbalik arah keluar
dari ruangan itu sambil saling bergandengan tangan, D.O langsung menutup mata
Kai dan segera menariknya pula dari ruangan itu. Chen dan Xiumin jadi salah
tingkah lalu melangkah sambil ber-ohlala, sedangkan Suho dan Lay yang jadi
couple terakhir hanya bisa mendesah pendek.
“Aku tak tahu mana
yang lebih baik, kalian bertengkar atau kalian seperti ini, membuat teman-teman
kalian yang bertengkar...” Suho dan Lay melangkah menyusul mereka semua. Dan
sekarang, hanya tinggal author yang terbengong-bengong menatap Chanbaek yang
masih pewe dengan posisi mereka sampai...
“Heh, Author kepo!
Kenapa masih di sini? Apa kamu mau melihat rate M kami sekarang?”
Author semakin
bengong dan melongo.
“Mungkin sekarang
Hunhan sedang melakukan Rate M di dorm. Apa kamu tidak ingin meliputnya?
Author
geleng-geleng. “Ani... Aniya... aku masih belum cukup mental untuk meliput
mereka!”
“Kalau begitu
pergilah! Mengganggu saja!”
“Tapi kalian.... Ah,
apa kalian ingin membuat rate M juga?” Author pasang wajah kepo plus mupeng
karena pengen tahu!
“Loe belum cukup umuuuurrrrr....!!!
sana keluaaaaarrrr....!!! Umur boleh udah puber, tapi mental loe masih kayak
anak TK! Sanaaa keluaaaaaarrrrr.....!!!”
Author lari keluar
ruangan sambil nangis. Hanya yayang Gaara yang bisa menghiburnya saat ini...!
Bye...!
~
fin ~
Author : Wuahahahahaha.... baru kali
ini ye bikin yang agak nge-plak! Plak! Hiks, paraaah.... ini kok masih kayak
anak SMP yang bikin cerpen garing, ya? Hiks... tapi mungkin lebih bagusan anak
SMP daripada ini...! Huaaaa.... yayang Gaara... aku ditolak Chanbaek...!! Aku
juga belum siap mental buat meliput Hunhan, Kristao, Kaisoo atau Jren...!
Huaaaa... hiks..!
Langganan:
Postingan (Atom)